DigIndonews.comDigIndonews.com
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Reading: Selat Hormuz Tutup, Saatnya Industri Kendaraan Listrik Indonesia Naik Kelas
Share
Font ResizerAa
DigIndonews.comDigIndonews.com
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Search
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
© Sayangi.com 2022 | All Rights Reserved
DigIndonews.com > Opini > Selat Hormuz Tutup, Saatnya Industri Kendaraan Listrik Indonesia Naik Kelas
Opini

Selat Hormuz Tutup, Saatnya Industri Kendaraan Listrik Indonesia Naik Kelas

Astriani Published Juni 15, 2026
Share
Ket: Direktur Keuangan Bakornas Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI) PB HMI
SHARE

Oleh: Icuk Manggala

Direktur Keuangan Bakornas Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI) PB HMI

Jakarta, 15 Juni 2026 – Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mengingatkan dunia pada satu fakta lama: ketergantungan terhadap minyak bumi masih menjadi titik lemah banyak negara, termasuk Indonesia. Ketika harga minyak dunia melonjak hingga mendekati 120 dolar AS per barel, dampaknya tidak hanya dirasakan pasar global, tetapi juga langsung menekan perekonomian nasional melalui meningkatnya biaya impor energi dan potensi membengkaknya subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Bagi Indonesia, situasi ini seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat transformasi sektor transportasi menuju kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV). Krisis energi global tidak lagi dapat dipandang sebagai ancaman semata, melainkan peluang strategis untuk membangun kemandirian energi nasional.

Selama bertahun-tahun Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak dan gas dalam jumlah besar, setiap konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah hampir selalu berdampak langsung terhadap stabilitas fiskal dan ekonomi nasional. Pemerintah kerap dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga BBM yang berisiko memicu gejolak sosial atau mempertahankan harga dengan konsekuensi membengkaknya beban subsidi negara.

Baca Juga  Adakan Pertemuan Dengan Tim Kecil, Anies Sebut Bahas Isu Perubahan Yang Terjadi di Lapangan dan Nama Cawapres

Padahal, Indonesia memiliki modal besar untuk keluar dari ketergantungan tersebut. Indonesia merupakan salah satu pemilik cadangan dan produsen nikel terbesar di dunia, bahan baku utama dalam industri baterai kendaraan listrik. Posisi strategis ini seharusnya mampu menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok industri EV global.

Krisis di Selat Hormuz membuka peluang baru. Ketika harga energi fosil terus meningkat dan ketidakpastian geopolitik semakin tinggi, banyak investor global mulai mencari lokasi alternatif yang lebih aman dan memiliki sumber daya pendukung industri kendaraan listrik. Indonesia berada dalam posisi yang sangat menguntungkan untuk menarik investasi tersebut.

Namun demikian, peluang besar ini juga menyimpan tantangan serius. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan baku atau pasar bagi produk kendaraan listrik asing. Saat ini sebagian besar teknologi baterai, perangkat lunak kendaraan, hingga desain manufaktur masih dikuasai oleh perusahaan luar negeri. Akibatnya, nilai tambah terbesar dari industri EV justru dinikmati pihak asing, sementara Indonesia hanya memperoleh manfaat terbatas dari sumber daya alam yang dimilikinya.

Baca Juga  Christina Aryani Ajak Masyarakat Jadi Smart Buyer Gunakan E-Commerce

Data pertumbuhan kendaraan listrik nasional memang menunjukkan perkembangan positif. Penjualan EV meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan mulai mendapat perhatian masyarakat. Namun secara keseluruhan, kendaraan berbahan bakar fosil masih mendominasi pasar otomotif nasional. Selain itu, keterbatasan infrastruktur pengisian daya, harga kendaraan yang relatif mahal, serta ketergantungan sistem kelistrikan pada pembangkit berbasis batu bara masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Karena itu, kebijakan pengembangan industri EV tidak boleh berhenti pada hilirisasi nikel semata. Pemerintah perlu mendorong penguasaan teknologi yang lebih dalam melalui kewajiban transfer teknologi bagi investor asing, penguatan riset nasional, serta dukungan terhadap industri komponen dalam negeri. Hilirisasi harus bergerak menuju produksi katoda, sel baterai, hingga kendaraan listrik utuh yang memiliki nilai tambah jauh lebih tinggi.

Baca Juga  LMPI Kecam Tindakan Ormas Bergaya Preman, Dukung TNI-Polri Berantas Premanisme

Di sisi lain, berbagai kebijakan perdagangan dan energi juga perlu dikaji secara hati-hati agar tidak justru memperpanjang ketergantungan terhadap energi fosil. Konsistensi arah kebijakan menjadi faktor penting agar target transisi energi nasional dapat tercapai secara optimal.

Penutupan Selat Hormuz merupakan pengingat bahwa ketergantungan pada minyak impor adalah risiko yang terus berulang. Indonesia memiliki kesempatan langka untuk mengubah tantangan global menjadi lompatan industri nasional. Dengan sumber daya nikel yang melimpah, pasar domestik yang besar, dan meningkatnya minat investasi global, saat ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk naik kelas dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pusat industri kendaraan listrik yang berdaya saing tinggi.

Momentum ini tidak akan terbuka selamanya. Jika tidak dimanfaatkan dengan tepat, Indonesia hanya akan kembali menjadi penonton di tengah perubahan besar industri otomotif dunia yang sedang berlangsung.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article BP Tapera Dorong Program Perumahan Kepulauan Nias, BSPS 2026 Jangkau Seluruh Wilayah
Next Article Boy Latuconsina: Presiden Harus Jujur, Perangkatnya Belum Siap Distribusikan MBG
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Daerah1,185
    • Agam14
    • Bukit Tinggi14
    • Limapuluh Kota428
    • Padang37
    • Payakumbuh244
    • Solok73
  • Ekonomi2,117
  • Headline408
  • Internasional82
  • Khazanah226
  • Lifestyle112
  • Nasional1,019
  • Olahraga79
  • Opini190
  • Pariwara Lipsus31
  • Politik267
  • Uncategorized293
  • Video15

Berita Lainnya

BRI KCP Thamrin City Hadir Dukung Kebutuhan Perbankan Tenant, Pengelola, dan Pengunjung Pusat Perdagangan Jakarta Pusat
Akreditasi Media BRICS Summit 2026 Resmi Dibuka, Pendaftaran Hingga 31 Agustus
BRI KK ITC Cempaka Mas Permudah Layanan Perbankan bagi Tenant dan Masyarakat
BRI KK Blok A Tanah Abang Permudah Akses Perbankan di Pusat Grosir

Berita Terkait

Opini

Teguran terhadap 12 Daerah: Cermin Lemahnya Sistem Pembentukan Produk Hukum Daerah

Juli 23, 2026

Belajar dari Tragedi Kaum Sodom; Menatap Maraknya Fenomena LGBT di Sumatra Barat”

Juli 21, 2026
NasionalOpiniPolitik

Tiap 1% Masyarakat Sumut Terdampak Kelangkaan BBM, Berpotensi Merugi Rp. 2,98 M dan Rp. 1,75 M dari Sektor Transportasi per Hari

Juli 20, 2026
Opini

Digitalisasi UMKM Didorong Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Juli 17, 2026
Show More
DigIndonews.comDigIndonews.com
Follow US
© DigIndonews.com 2024 | All Rights Reserved
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
Sign in to your account

Lost your password?