Digindonews.com — Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus memperkuat upaya peningkatan kualitas demokrasi melalui kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan kepada Kelompok Pemilih Rentan, Marjinal, dan Pemula yang digelar pada Sabtu (1/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi membangun budaya demokrasi yang tidak hanya mengedepankan tingginya angka partisipasi pemilih, tetapi juga kualitas partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak politiknya.
Dalam keynote speech, KPU menegaskan bahwa demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS), melainkan dari tingkat pemahaman warga terhadap hak, kewajiban, serta tanggung jawabnya sebagai pemilih. Karena itu, pendidikan pemilih dinilai menjadi fondasi penting untuk melahirkan pemilih yang cerdas, kritis, mandiri, dan berintegritas.
KPU juga menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan pemilih yang inklusif dengan menjangkau kelompok rentan, marjinal, dan pemilih pemula yang memiliki tantangan berbeda dalam mengakses informasi kepemiluan. Melalui pendekatan yang berkelanjutan dan partisipatif, masyarakat diharapkan semakin mampu menangkal ancaman hoaks, disinformasi, politik uang, ujaran kebencian, hingga sikap apatis terhadap demokrasi.
Pada sesi materi, Pegiat Demokrasi Zamzam Syahara mengangkat tema “Demokrasi 2.0: Gen Z Playbook & Masa Depan Politik Kita”. Ia menjelaskan bahwa generasi muda kini menjadi kekuatan utama politik Indonesia karena lebih dari 55 persen Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 berasal dari kelompok usia 17–39 tahun, dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat pada Pemilu 2029.
Menurut Zamzam, besarnya jumlah pemilih muda menjadikan Gen Z bukan lagi sekadar objek politik, melainkan aktor utama yang menentukan arah pembangunan bangsa. Namun, ia mengingatkan adanya fenomena The Gen Z Paradox, yakni kondisi ketika anak muda sangat aktif di dunia digital, tetapi masih memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap politik formal.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak terjebak budaya Fear of Missing Out (FOMO) dalam menyikapi isu politik di media sosial. Generasi muda didorong lebih fokus pada isu-isu substansial seperti kesejahteraan masyarakat, lapangan kerja, dan pemberantasan korupsi dibanding sekadar mengikuti tren politik sesaat.
Selain itu, Zamzam mengingatkan bahaya politik uang digital yang diperkirakan berkembang pada Pemilu 2029 melalui berbagai platform digital, mulai dari dompet elektronik, QRIS, hingga endorsement influencer. Ia juga mengajak peserta meningkatkan kemampuan verifikasi informasi untuk menghadapi maraknya hoaks dan disinformasi.
Di akhir pemaparannya, Zamzam mengajak generasi muda keluar dari sikap apatis dan mengambil peran aktif dalam menjaga integritas demokrasi melalui literasi digital, penolakan terhadap politik uang, serta keterlibatan aktif dalam mengawal proses demokrasi Indonesia.***


