Limapuluh Kota, Digindonews.com- Sikap arogansi Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Kabupaten Limapuluh Kota, Witra, semakin meluas dan viral di media online, bahkan sampai meresahkan perantau asal Gonjong Limo yang mengaku “prihatin” setelah membaca pemberitaan. Kritikan memuncak karena pejabat tersebut dinilai kurang peka menanggapi isu yang beredar, malah terlihat senang duduk dan tertawa bersama sesama eselon 2.
Sikap arogansi ini mulai beredar sejak beberapa hari lalu, setelah ia dianggap tidak responsif terhadap pertanyaan wartawan mengenai output kunjungan kerja bersama Bupati Limapuluh Kota ke India beberapa bulan yang lalu. Keadaan semakin memanas ketika wartawan mencoba mengkonfirmasi langsung, alih-alih berkomunikasi, pejabat tersebut malah mengajak duel. Nomor WhatsApp Kadis dan Kabid yang diberikan Wakil Bupati (Wabup) juga tidak mendapatkan tanggapan, bahkan dinyatakan terblokir.

Seorang tokoh masyarakat dan mantan anggota DPRD Limapuluh Kota, Khairul Apit, mengungkapkan keheranan karena pejabat tersebut tidak bisa menjelaskan hasil kunjungan yang ditanti-tanti petani gambir.
“Masak seorang kadis pertanian tidak bisa menjawab apa hasil kunjungan ke India? Menjelaskan ini kok susah sekali, ada apa sebenarnya dengan dinas pertanian?” tanyanya. Minggu, (28/12/25)
Khairul Apit juga menyarankan agar kunjungan itu tidak jadi “bola liar” atau “tunggangan kelompok tertentu” yang mengatasnamakan petani gambir.
“Harusnya ada konferensi pers. Kalau tidak, ajukan hak jawab atau hak koreksi di redaksi media agar persoalannya jelas,” ujarnya Khairul Apit
Selain itu, Khairul Apit menyentil terkait kelangkaan pupuk yang membuat petani merasa tercekik.
“Peran dinas pertanian tidak terasa, atau adakah indikasi Kadis ikut bermain dalam permainan pupuk ini??” tanyanya.
Kelangkaan pupuk di tengah kebutuhan tinggi, terutama bagi petani pesawah, menjadi masalah serius karena banyak yang mengalami kesulitan akibat kurangnya stok dan harga yang bervariatif.
Khairul Apit mengaku telah menyampaikan permasalahan ini langsung ke Bupati H. Safni, namun upaya itu hanya di dengar tanpa ada reaksi dari dinas terkait.
“Jangan katakan hanya wartawan saja, nomor saya pun juga diblokir oleh Kadis Pertanian. Oleh karena itu, persoalan ini sudah saya sampaikan ke Bupati H. Safni. Semoga kelangkaan pupuk dan arogansi yang ditunjukkan Kadis Pertanian ini bisa segera ditangani dan ditegur oleh Bupati Safni,” tambahnya
Perlu dicatat, Limapuluh Kota adalah salah satu penghasil gambir terbesar di Sumatera Barat dan dunia, dengan sebagian besar produk diekspor ke India. Kunjungan pemerintah daerah ke negara tersebut sempat diharapkan petani gambir sebagai langkah untuk meningkatkan akses pasar dan harga jual komoditas mereka.
Masyarakat Limapuluh Kota dan perantau terus menantikan penjelasan terbuka dari Kadis Pertanian, agar isu yang semakin memanas ini tidak merusak kepercayaan terhadap pemerintah daerah Kabupaten Limapuluh Kota.
(Tim)


