Jakarta, 26/26 – Penguatan kepemimpinan perempuan menjadi salah satu fokus utama dalam Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan yang diselenggarakan KPU pada Minggu, 26 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber yang menyoroti pentingnya memperluas ruang partisipasi perempuan dalam kehidupan demokrasi.
Pemerhati isu perempuan, Ema Amalia, menjelaskan bahwa demokrasi yang bermakna dibangun melalui tiga pilar utama, yakni keadilan dan inklusivitas, kualitas kebijakan publik, serta legitimasi demokrasi. Menurutnya, tanpa keterlibatan perempuan secara penuh, demokrasi akan kehilangan sebagian potensinya dalam menghadirkan keadilan bagi seluruh masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa meskipun perempuan merupakan mayoritas besar dalam daftar pemilih, keterwakilan mereka di lembaga legislatif masih berada di bawah target afirmasi sebesar 30 persen. Berbagai hambatan seperti stereotip gender, budaya patriarki, keterbatasan akses pendidikan politik, hingga beban ganda perempuan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi bersama.
Karena itu, Ema menilai penguatan perempuan harus dimulai melalui peningkatan literasi politik, keberanian berpartisipasi dalam ruang publik, serta pembangunan kapasitas kepemimpinan. Upaya tersebut, menurutnya, membutuhkan kolaborasi pemerintah, penyelenggara pemilu, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, media, dan komunitas perempuan.
Dalam kegiatan tersebut juga ditegaskan bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari jabatan politik. Kepemimpinan dapat tumbuh melalui keberanian mengedukasi keluarga, menggerakkan komunitas, menyampaikan aspirasi masyarakat, serta mengawal kebijakan publik agar berpihak kepada kepentingan rakyat.
Menutup rangkaian kegiatan, para narasumber sepakat bahwa perempuan harus terus didorong untuk menjadi pemilih yang cerdas, aktif menyampaikan aspirasi, berani menolak politik uang dan disinformasi, serta mengambil peran sebagai pemimpin sesuai kapasitasnya. Dengan semakin kuatnya literasi, partisipasi, dan kepemimpinan perempuan, demokrasi Indonesia diharapkan menjadi semakin inklusif, berkeadilan, dan berkualitas.


