Jakarta, 08/01,-Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM) menyampaikan apresiasi atas pengumuman swasembada pangan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 7 Januari 2026. Ramon Hidayat, Departemen Pertanian, Kehutanan, Agraria dan Kelautan DPP IKM melihat bahwa ini bukan sekadar keberhasilan teknis di sektor pertanian, tetapi sebuah peristiwa bersejarah yang mengembalikan “mahkota” kedaulatan bangsa Indonesia yang telah lama hilang. Swasembada pangan menegaskan kembali jati diri Indonesia sebagai bangsa besar yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri, khususnya dalam memenuhi kebutuhan paling mendasar rakyatnya.
Menurut Ramon, Indonesia pernah mencapai swasembada pangan lebih dari empat dekade lalu, dan kini sejarah tersebut kembali terulang. Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) amatan November 2025, produksi beras nasional tahun 2025 diperkirakan mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan domestik. Capaian ini dinilai istimewa karena terwujud hanya satu tahun setelah pelantikan Presiden, jauh lebih cepat dari target empat tahun yang sebelumnya ditetapkan.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan fondasi utama kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Ia menekankan bahwa tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka apabila kebutuhan pangannya masih bergantung pada negara lain. Bagi Ramon, pernyataan tersebut mencerminkan visi kepemimpinan yang menempatkan kemandirian pangan sebagai pilar utama kemerdekaan sejati.
Keberhasilan swasembada pangan ini tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga menimbulkan efek signifikan di pasar global. Keputusan Indonesia menghentikan impor beras membuat permintaan global menurun tajam, sehingga harga beras dunia mengalami penurunan drastis. Harga beras internasional yang sebelumnya berada di kisaran USD 660 per metrik ton kini anjlok menjadi sekitar USD 368 per metrik ton, atau turun sebesar 44,2 persen. Penurunan ini menegaskan kuatnya posisi tawar Indonesia dalam mempengaruhi stabilitas harga pangan dunia.
Dampak positif swasembada pangan juga dirasakan langsung oleh para petani. Nilai Tukar Petani (NTP) Desember 2025 tercatat sebesar 125,35, tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, rata-rata NTP tahun 2025 mencapai 123,26, menjadi yang tertinggi dalam 33 tahun terakhir. Angka tersebut mencerminkan peningkatan nyata kesejahteraan petani sebagai pelaku utama sektor pangan nasional.
Dari sisi ekonomi makro, sektor pertanian menunjukkan kinerja yang sangat solid dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 10,52 persen pada triwulan I 2025, tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Capaian ini menegaskan peran strategis sektor pertanian sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus pilar utama kedaulatan dan kemakmuran bangsa.
Sejalan dengan capaian tersebut, DPP IKM menyampaikan apresiasi atas kinerja Kementerian Pertanian yang dinilai berhasil menerjemahkan arahan Presiden secara efektif di lapangan. Konsistensi kebijakan, penguatan produksi, serta keberpihakan pada petani menjadi faktor kunci terwujudnya swasembada pangan dalam waktu singkat, sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional.


