Digindonews.com, Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki peran strategis dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi bonus demografi sekaligus memperkuat daya saing bangsa di tengah era disrupsi teknologi dan persaingan global.
Hal tersebut disampaikan Pegiat Literasi Digital, Didi, S.E.Ak., M.M.Ak., CA., dalam webinar bertema “MBG: Menyiapkan Generasi Tangguh untuk Kedaulatan Bangsa dan Pertahanan Negara di Era Disrupsi” yang berlangsung pada 17 Juni 2026.
Menurut Didi, Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai tantangan gizi yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Salah satu tantangan tersebut adalah fenomena triple burden of malnutrition, yakni kondisi ketika masalah kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, serta kelebihan berat badan dan obesitas terjadi secara bersamaan dalam masyarakat.
“Kualitas gizi hari ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dampak kekurangan gizi tidak hanya memengaruhi kesehatan, tetapi juga kemampuan belajar, produktivitas, dan daya saing masyarakat dalam jangka panjang. Jika tidak ditangani secara serius, kondisi tersebut dapat menghambat pembangunan nasional.
Menurutnya, MBG merupakan bentuk investasi jangka panjang yang sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan produktivitas masyarakat.
Didi menambahkan bahwa Indonesia saat ini berada pada momentum bonus demografi, ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan kelompok usia nonproduktif. Momentum tersebut dapat menjadi peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi apabila didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh program MBG. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar mendorong peningkatan aktivitas sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta berbagai usaha pendukung lainnya di daerah.
“Program ini menghasilkan multiplier effect yang mampu menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperkuat fondasi pembangunan manusia,” katanya.
Melalui pemenuhan gizi yang berkualitas, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan bonus demografi secara optimal, meningkatkan daya saing nasional, serta memperkuat kedaulatan dan ketahanan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global di masa mendatang.***


