Jakarta – Keberhasilan membangun generasi Indonesia yang sehat dan cerdas tidak dapat hanya mengandalkan sekolah. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat agar pendidikan serta pemenuhan gizi berjalan selaras.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen STKIP Melawi Ahmad Khoiri dalam webinar mengenai integrasi gizi dan pendidikan. Menurutnya, pendidikan gizi harus dimulai sejak masa emas pertumbuhan anak dan terus diperkuat melalui pembiasaan hidup sehat baik di sekolah maupun di rumah.
Ia menjelaskan bahwa sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter sekaligus mengembangkan kebiasaan hidup sehat peserta didik. Namun, kebiasaan tersebut akan sulit bertahan apabila tidak didukung oleh pola makan dan lingkungan keluarga yang sehat.
Menanggapi pertanyaan peserta mengenai perbedaan kebiasaan makan anak di rumah dan di sekolah, Dr. Gunalan A.P. menjelaskan bahwa Badan Gizi Nasional telah menyiapkan berbagai program edukasi seperti MBG Goes to School, MBG Goes to Campus, dan MBG Goes to Community untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang.
Program edukasi tersebut juga menyasar orang tua, pengelola kantin sekolah, pelaku UMKM, petani, hingga mitra penyedia pangan agar seluruh ekosistem pendukung Program Makan Bergizi Gratis memiliki pemahaman yang sama mengenai standar makanan sehat dan bergizi.
Ahmad Khoiri menambahkan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari tersedianya makanan bergizi di sekolah, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan sekolah sebagai fondasi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045 melalui kolaborasi yang kuat dan berkesinambungan.


