Digindonews.com – Anggota Komisi IX DPR RI, H. Obon Tabroni, S.E., mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, mempercepat penurunan angka stunting, serta membangun keluarga yang sejahtera.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Rabu (21/10/2026).
Dalam pemaparannya, Obon menyampaikan bahwa Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia memiliki potensi sumber daya manusia yang sangat besar. Namun, jumlah penduduk tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan agar menjadi kekuatan dalam pembangunan nasional.
Ia menyoroti persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius. Angka stunting nasional masih berada di kisaran 20 persen, sementara di Kabupaten Karawang tercatat sekitar 17 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penurunan stunting masih membutuhkan perhatian dan kerja sama berbagai pihak.
Menurutnya, persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui program pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan dunia usaha, masyarakat, pemerintah daerah, serta lembaga terkait.
Obon juga menyinggung tantangan yang dihadapi kawasan industri seperti Karawang. Pertumbuhan industri harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk dalam peningkatan kesejahteraan, kesehatan, dan kualitas lingkungan.
“Jangan sampai daerah yang dikenal sebagai kawasan industri justru hanya mendapatkan polusi udara, sementara masyarakat di sekitarnya tidak merasakan kesejahteraan yang sepadan,” menjadi salah satu pesan yang disampaikannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan gizi.
Dalam konteks tersebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki peran strategis karena tidak hanya membantu pemenuhan gizi, tetapi juga membangun kebiasaan makan sehat sejak usia dini.
Obon mencontohkan adanya perubahan perilaku anak-anak sekolah setelah program MBG berjalan. Anak-anak yang sebelumnya kurang menyukai sayuran mulai terbiasa mengonsumsi makanan bergizi. Bahkan, jumlah anak yang bersedia makan sayur di salah satu sekolah meningkat dari sekitar lima menjadi 30 anak.
Menurutnya, perubahan sederhana tersebut dapat memberikan dampak positif dalam membentuk pola konsumsi sehat sejak kecil.
Selain aspek kesehatan, program MBG juga memiliki nilai keadilan sosial. Melalui kegiatan makan bersama dengan menu yang sama, anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi dapat merasakan perlakuan yang setara.
Ia menilai kesetaraan tersebut penting dalam membangun rasa percaya diri, solidaritas, dan hubungan sosial yang baik sejak usia dini.
Obon menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari keluarga dan lingkungan pendidikan. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia industri, lembaga kesehatan, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar program pembangunan keluarga dapat memberikan manfaat nyata.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya pemenuhan gizi, pencegahan stunting, dan keterlibatan seluruh elemen dalam mewujudkan keluarga sehat serta generasi Indonesia yang berkualitas.***


