Sumedang – Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Good Agricultural Practices (GAP) dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) bagi pemandu lapang komoditas mangga di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing mangga Gedong Gincu yang diproyeksikan memasuki pasar ekspor Jepang. Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Fausiah T. Ladja, Project Director HDDAP Bapak Freddy, S.TP, M.Sc, M.P.S., Ph.D, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang Bapak Dr. H. Tono Suhartono, SP, MM, PMC Cultivation Specialist Dr. Ir. Dwi Iswari, M.Sc, PJ Komponen Quality Assurance Dr. Dina Martha Susilawati Situmorang, S.Si, M.Si, Kepala UPTD Kecamatan Jatigede Bapak Dodi Rustandi, S.Hut, perwakilan International Fund for Agricultural Development (IFAD), sahabat para penyuluh pertanian lapangan (PPL), petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), DIT, fasilitator di Kabupaten Sumedang, serta para pemangku kepentingan pengembangan hortikultura lainnya.
Dalam sambutannya, Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura, Fausiah T. Ladja, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang terdiri atas penyuluh pertanian lapangan (PPL), petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), dan fasilitator daerah yang akan berperan penting dalam mendampingi petani mangga di lapangan.
Fausiah menjelaskan bahwa kegiatan bimtek ini merupakan bagian dari program Horticulture Development of Dryland Areas Project (HDDAP) yang didukung oleh Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD).
“HDDAP dirancang untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, dan rantai nilai produk hortikultura Indonesia. Salah satu komoditas yang menjadi fokus pengembangan adalah mangga, termasuk di Kabupaten Sumedang yang dikenal sebagai sentra Mangga Gedong Gincu,” ujar Fausiah.
Ia menambahkan, Kabupaten Sumedang memiliki potensi besar dalam pengembangan mangga berkualitas ekspor. Berdasarkan data Sipedas tahun 2025, produksi mangga Kabupaten Sumedang mencapai 56.652 ton atau sekitar 13,33 persen dari total produksi mangga Jawa Barat yang mencapai 424.833 ton.
Meski memiliki produksi yang cukup tinggi, volume ekspor mangga Indonesia pada tahun 2025 masih sekitar 699 ton. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan budidaya yang baik, serta pengendalian hama yang efektif menjadi langkah penting untuk memenuhi standar pasar internasional.
Dalam program HDDAP, Kabupaten Sumedang memperoleh dua skema pengembangan mangga, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kebun yang sudah ada melalui perbaikan budidaya dan pemeliharaan tanaman. Sementara ekstensifikasi bertujuan menambah populasi tanaman mangga guna meningkatkan produksi pada masa mendatang.
Sebanyak 19 pemandu lapang mengikuti bimtek tersebut. Mereka nantinya akan menjadi pengajar dalam Sekolah Lapang GAP yang akan diikuti petani penerima manfaat HDDAP pada Juli hingga Agustus 2026.
Di Sumedang sendiri terdapat 14 kelompok tani penerima manfaat program HDDAP komoditas mangga. Selain mendapatkan pelatihan, petani juga menerima berbagai dukungan sarana produksi, mulai dari benih, pupuk, fasilitas irigasi, klinik PHT, hingga pembangunan bangsal pascapanen.
Fausiah berharap para peserta dapat memanfaatkan bimtek ini untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan yang nantinya akan ditransfer kepada petani. Menurutnya, keberhasilan program sangat ditentukan oleh kualitas pendampingan di lapangan.
“Sinergi antara petani, petugas lapang, pelaku usaha, eksportir, dan pemerintah harus terus diperkuat agar ekspor mangga Indonesia, khususnya dari Sumedang, semakin meningkat dan berdampak langsung pada kesejahteraan petani,” katanya.
Melalui penguatan budidaya, pengendalian hama yang tepat, serta peningkatan kualitas pascapanen, pemerintah optimistis Mangga Gedong Gincu Sumedang dapat menjadi salah satu komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar internasional.


