Saya menulis ini bukan dari kejauhan, melainkan dari dalam kawasan yang menjadi salah satu medan tarik-menarik kepentingan global. Sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di Timur Tengah dan mengamati langsung denyut politik regional, saya melihat Mesir hari ini berada pada posisi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar “sekutu Amerika” atau “mitra Tiongkok”. Mesir sedang menjalankan seni bertahan hidup politik dalam dunia yang semakin tidak ramah bagi negara-negara yang bergantung.
Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok sering digambarkan sebagai konflik besar antar-hegemoni, tetapi bagi Mesir, rivalitas ini hadir dalam bentuk yang sangat konkret: tekanan ekonomi, ancaman keamanan regional, dan tuntutan politik yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional. Laut Merah, Terusan Suez, Gaza, dan stabilitas domestik bukan isu abstrak di meja diplomasi; semuanya adalah persoalan eksistensial bagi negara ini.
Amerika Serikat masih melihat Mesir sebagai pilar keamanan Timur Tengah. Bantuan militer, kerja sama strategis, dan posisi Mesir dalam isu Palestina menjadikan Kairo aktor penting dalam kalkulasi Washington. Namun, hubungan ini semakin sarat ekspektasi sepihak. Dalam isu Gaza, misalnya, Mesir kerap didorong untuk mengambil peran yang melampaui batas kepentingannya sendiri, seolah stabilitas nasional Mesir bisa dinegosiasikan demi agenda geopolitik yang lebih besar.
Di sinilah Mesir mulai menunjukkan sikap yang menurut saya sering disalahpahami. Penolakan terhadap tekanan Amerika terkait Gaza bukan bentuk pembangkangan, tetapi pernyataan batas. Mesir memahami betul bahwa setiap eskalasi di Gaza memiliki implikasi langsung terhadap Sinai, keamanan internal, dan stabilitas sosial. Tidak ada negara berdaulat yang bersedia menjadikan wilayahnya sebagai penyangga konflik tanpa kendali.
Hal yang sama terlihat dalam krisis Laut Merah dan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional. Ketika serangan Houthi memicu respons militer dari Amerika dan sekutunya, Mesir memilih jalur yang lebih berhitung. Alih-alih terlibat dalam eskalasi terbuka, Kairo mengambil posisi aman. Bagi Mesir, Laut Merah bukan sekadar koridor global—ia adalah pintu masuk ke Terusan Suez, jantung ekonomi nasional yang tidak boleh dijadikan korban konflik geopolitik.
Sebagai pengamat yang hidup di kawasan ini, saya melihat keputusan tersebut bukan sebagai sikap lemah, melainkan sebagai kalkulasi rasional. Mesir tahu bahwa setiap gangguan di Terusan Suez berdampak langsung pada pemasukan negara, stabilitas fiskal, dan legitimasi politik domestik. Dalam konteks ini, menjaga jarak dari eskalasi militer adalah pilihan strategis, bukan tanda ketidakberpihakan moral.
Di sisi lain, hubungan Mesir dengan Tiongkok menawarkan dimensi yang berbeda. Tidak seperti Amerika, Tiongkok datang tanpa bahasa moral dan tuntutan ideologis. Investasi, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur menjadi fondasi utama relasi ini. Dari proyek kawasan industri hingga kerja sama energi, Tiongkok hadir sebagai mitra ekonomi yang memberi ruang bernapas bagi Mesir di tengah tekanan global.
Namun, penting untuk ditegaskan: Mesir tidak sedang berpindah kubu. Saya melihat hubungan dengan Tiongkok bukan sebagai pengganti Amerika, melainkan sebagai penyeimbang. Dalam dunia yang semakin multipolar, ketergantungan tunggal adalah risiko strategis. Diversifikasi mitra bukan bentuk oportunisme, melainkan kebutuhan struktural bagi negara yang ingin mempertahankan otonomi.
Penegasan kedaulatan Mesir atas Terusan Suez menjadi simbol paling jelas dari arah kebijakan ini. Di tengah gangguan keamanan dan tekanan internasional, Kairo secara konsisten menegaskan bahwa terusan tersebut adalah wilayah kedaulatan nasional yang tidak bisa didikte oleh kekuatan mana pun. Ini bukan hanya soal hukum internasional, tetapi juga soal harga diri politik.
Banyak pengamat luar menyebut sikap Mesir sebagai ambigu. Saya tidak sepakat. Ambiguitas adalah ketika negara tidak tahu apa yang diinginkannya. Mesir justru sangat tahu apa yang ingin dijaganya: stabilitas internal, kedaulatan ekonomi, dan ruang manuver politik. Yang membuatnya terlihat “tidak jelas” hanyalah karena dunia masih terbiasa dengan logika lama: negara harus memilih satu blok dan tunduk pada konsekuensinya.
Faktanya, Mesir sedang mempraktikkan bentuk diplomasi yang semakin lazim di Global South—diplomasi pragmatis. Tidak ideologis, tidak sentimental, tetapi sangat berorientasi pada kepentingan nasional. Mesir tidak menantang Amerika secara terbuka, tetapi juga tidak membiarkan dirinya diseret ke konflik yang merugikan. Mesir menerima investasi Tiongkok, tetapi tetap menjaga kendali atas sektor strategisnya.
Sebagai mahasiswa yang mengamati politik Timur Tengah dari dalam, saya melihat pendekatan ini sebagai refleksi kedewasaan politik. Dunia sedang bergerak menuju ketidakpastian. Kekuatan besar sibuk bersaing, sementara negara-negara menengah seperti Mesir harus memastikan mereka tidak hancur di tengah tabrakan kepentingan tersebut.
Pada akhirnya, rivalitas Amerika–Tiongkok bukan ujian tentang loyalitas, melainkan tentang kecerdasan membaca situasi. Mesir hari ini menunjukkan bahwa bertahan bukan berarti pasif. Bertahan berarti tahu kapan berkata tidak, kapan bekerja sama, dan kapan menegaskan batas. Dalam dunia yang semakin keras, mungkin inilah bentuk kekuatan paling relevan: kemampuan untuk tidak terseret, tetapi tetap berdiri.
Penulis : muhammad ridwan ( Mahasiswa Al Azhar Cairo )


