Jakarta Utara, 22 Juni 2026 – Sembilan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sukses melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mandiri di SD Wijaya Kusuma, Penjaringan, Jakarta Utara. Kegiatan bertajuk “Cinta Indonesia Dari Akar: Edukasi Sejarah Lokal dan Kearifan Budaya” ini menjadi upaya nyata dalam menanamkan rasa cinta tanah air, memperkuat pemahaman sejarah lokal, serta mengenalkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada siswa sekolah dasar.
Ketua tim PKM, Richo Hening Sayoga, mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemahaman sebagian siswa terhadap sejarah dan budaya lokal di lingkungan mereka. Padahal, sejarah dan budaya daerah merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang perlu dikenalkan sejak usia dini.
“Kami ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa agar mereka tidak hanya mengenal sejarah nasional, tetapi juga memahami budaya dan sejarah lokal yang menjadi bagian dari kekayaan Indonesia,” ujar Richo.
Tantangan Penguatan Karakter Siswa
Berdasarkan hasil observasi dan diskusi bersama pihak sekolah, tim mahasiswa menemukan beberapa tantangan dalam penguatan karakter siswa. Sebagian siswa masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai keberagaman budaya Indonesia dan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Selain itu, penerapan nilai gotong royong dan musyawarah dalam aktivitas kelompok belum berjalan secara optimal. Tim juga menemukan masih adanya konflik ringan dan perilaku perundungan antar siswa yang menunjukkan perlunya penguatan nilai kemanusiaan, toleransi, dan kebersamaan melalui pendekatan pendidikan yang lebih menarik.
Metode pembelajaran budaya yang selama ini lebih banyak bersifat teoritis juga menjadi tantangan tersendiri. Akibatnya, siswa sering kali memahami nilai-nilai Pancasila sebatas hafalan tanpa memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Budaya yang Interaktif
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim PKM UBSI menghadirkan berbagai kegiatan edukatif yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Salah satunya melalui kegiatan Jelajah Sejarah Lokal yang mengenalkan berbagai cerita dan peristiwa sejarah yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Mahasiswa juga mengajak siswa mengikuti Bedah Cerita Rakyat yang memperkenalkan kisah-kisah budaya Nusantara yang sarat dengan nilai moral, persatuan, toleransi, dan gotong royong. Materi disampaikan melalui presentasi interaktif, cerita visual, diskusi kelompok, serta sesi tanya jawab yang mendorong partisipasi aktif siswa.
Tak hanya itu, peserta juga mengikuti berbagai permainan edukatif, kuis, simulasi sederhana, dan aktivitas menggambar bertema budaya Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, siswa dapat belajar dengan suasana yang lebih menyenangkan sekaligus memahami materi secara lebih mendalam.
Antusiasme dan Dampak Positif
Kegiatan berlangsung dengan antusias. Para siswa terlihat aktif mengikuti setiap sesi dan menunjukkan ketertarikan terhadap materi yang disampaikan. Melalui diskusi dan aktivitas kelompok, siswa diajak untuk memahami pentingnya menghargai perbedaan, bekerja sama, dan menjaga persatuan.
Program ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai sejarah lokal dan kearifan budaya Indonesia sebagai bagian dari identitas nasional. Selain itu, kesadaran siswa terhadap pentingnya nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari juga mengalami peningkatan.
Kegiatan ini turut menghasilkan dokumentasi foto dan video sebagai bukti pelaksanaan program, serta menjadi bahan publikasi untuk memperluas manfaat kegiatan kepada masyarakat dan civitas akademika.
Wujud Kontribusi Perguruan Tinggi
Dosen pendamping kegiatan, Kasmin, AP.Par., S.Pd., M.M., mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pendidikan budaya yang dikemas secara kreatif dan interaktif menjadi salah satu cara efektif untuk memperkuat karakter generasi muda.
Program yang didukung anggaran sebesar Rp820 ribu ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dapat menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya menambah wawasan siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan dengan tema budaya dan sejarah daerah lainnya sehingga semakin banyak siswa yang memahami dan mencintai keberagaman budaya Indonesia sebagai bagian dari jati diri bangsa.
Tim Pelaksana: Richo Hening Sayoga, Reva Liana, Putra Tegar Kusuma, Zennyma Vanesa Nur Rahmah, Audi Kirana, Siti Jamilah, Safirah Maharani, Devanda Angelica, dan Wiwin.
Dosen Pendamping: Kasmin, AP.Par., S.Pd., M.M.
Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), 2026.


