Jakarta – Ketegangan geopolitik dunia yang semakin meningkat menjadi perhatian berbagai pihak. Konflik antarnegara di sejumlah kawasan dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk sektor pangan.
Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Ramon Hidayat, menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan pangan nasional agar tetap stabil menghadapi potensi krisis global yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Menurutnya, dinamika geopolitik internasional harus menjadi peringatan bagi Indonesia untuk terus memperkuat sistem pangan nasional, mulai dari produksi, distribusi hingga cadangan pangan.
Gejolak Geopolitik Global Berpotensi Mengganggu Stabilitas Pangan Dunia
Ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berpotensi memengaruhi rantai pasok global. Konflik tersebut dapat berdampak pada jalur perdagangan internasional, distribusi energi, hingga pasokan komoditas pangan.
Kondisi geopolitik yang tidak stabil dinilai dapat memicu gangguan distribusi pangan dunia. Jika jalur perdagangan terganggu atau harga energi melonjak, maka biaya produksi pertanian juga akan ikut terdampak. Situasi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak lagi hanya menjadi isu sektor pertanian semata, melainkan telah menjadi bagian dari strategi ketahanan nasional yang harus dipersiapkan secara serius oleh setiap negara.
Ketahanan Pangan Menjadi Prioritas Strategis Negara
Ketahanan pangan saat ini juga menjadi perhatian dalam arah kebijakan nasional. Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa Indonesia harus mampu memastikan kebutuhan pangan rakyatnya tetap aman di tengah berbagai krisis global.
Dalam salah satu pidatonya, Prabowo menyampaikan bahwa apa pun yang terjadi di dunia, ketika banyak bangsa lain mengalami kesulitan akibat krisis global, Indonesia minimal harus tetap aman dalam urusan pangan.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan visi yang telah disampaikan Presiden Prabowo sejak beberapa tahun lalu terkait agenda swasembada pangan. Insting kepemimpinan Prabowo sekitar tiga tahun lalu yang mendorong swasembada pangan kini mulai menunjukkan hasil, terutama setelah berbagai program penguatan produksi pertanian dijalankan secara intensif oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Cadangan Pangan Indonesia Dinilai Masih Aman
Di tengah kekhawatiran terhadap potensi krisis pangan global, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyampaikan bahwa Indonesia memiliki cadangan pangan yang mampu bertahan hingga 324 hari.
Cadangan tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas nasional, terutama untuk memastikan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat apabila terjadi gangguan pada sistem perdagangan global.
Produksi Pangan Nasional Terus Berjalan
Selain cadangan pangan, produksi pangan nasional juga terus berjalan setiap hari berkat kerja para petani di berbagai daerah. Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Pertanian, produksi pangan nasional dapat mencapai sekitar 2,6 hingga 5,7 juta ton per hari, sementara kebutuhan pangan nasional berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menjaga ketersediaan pangan dalam negeri. Karena itu, dukungan terhadap petani melalui kebijakan yang berpihak, peningkatan akses teknologi pertanian, serta perlindungan terhadap hasil panen dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
Hilirisasi Pertanian Dinilai Penting
Penguatan sektor pangan tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi. Hilirisasi sektor pertanian dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Dengan hilirisasi, komoditas pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Langkah ini dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi di wilayah pedesaan. Selain itu, penguatan hilirisasi juga sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat desa-desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, sehingga hasil pertanian tidak lagi hanya berhenti di tingkat produksi, tetapi juga berkembang menjadi aktivitas industri dan ekonomi lokal yang mampu mendorong kemandirian desa.
Pengurangan Ketergantungan terhadap Produk Impor
Selain hilirisasi, pengurangan ketergantungan terhadap produk pangan impor juga dinilai penting dalam memperkuat kemandirian pangan nasional. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap impor dapat menjadi risiko ketika terjadi krisis global atau pembatasan ekspor oleh negara produsen.
Dalam situasi geopolitik yang tidak stabil, banyak negara cenderung memprioritaskan kebutuhan domestik mereka dengan membatasi ekspor komoditas pangan. Karena itu, penguatan produksi dalam negeri menjadi langkah strategis agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasar global.
Ketahanan pangan pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi kedaulatan dan stabilitas sebuah bangsa. Dukungan terhadap sektor pertanian, penguatan produksi dalam negeri, serta pembangunan sistem pangan yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar Indonesia tetap tangguh menghadapi dinamika geopolitik dunia yang terus berubah.


