JAKARTA — Kreator konten digital perlu mengutamakan keunikan, manfaat, dan daya tarik dalam menghasilkan karya agar mampu membangun identitas serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Popularitas dan jumlah penonton tidak seharusnya menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan sebuah konten.
Hal tersebut disampaikan akademisi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Yanto, Ph.D., dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Kreatif Berkarya, Cerdas Bermedia, dan Bijak Berkonten”, Rabu (14/10/2026).
Dalam pemaparannya, Yanto menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membuka peluang luas bagi generasi muda untuk belajar, membangun usaha, memasarkan produk, mengembangkan karier, dan memperluas jaringan hingga tingkat global.
Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan penguasaan keterampilan yang relevan, baik keterampilan teknis maupun kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, berkolaborasi, beradaptasi, dan memecahkan masalah.
Menurutnya, kreator harus mampu mengidentifikasi potensi dan bidang yang dikuasai untuk menghasilkan karya yang memiliki ciri khas. Konten pendidikan, kuliner, pariwisata, politik, hukum, maupun hiburan dapat dikembangkan sesuai dengan kompetensi dan minat masing-masing.
Yanto mencontohkan bahwa sebuah produk dapat menarik perhatian masyarakat bukan semata-mata karena harganya, melainkan juga karena keunikan dan nilai yang ditawarkan. Prinsip serupa berlaku dalam pembuatan konten digital.
Kreator perlu memberikan alasan bagi audiens untuk memilih dan mengikuti karya mereka. Karena itu, pengembangan ide harus diarahkan pada penciptaan konten yang menarik sekaligus memiliki manfaat yang jelas.
Dalam sesi diskusi, Muhammad Faisal dari Bekasi mempertanyakan cara menyeimbangkan upaya memperoleh keuntungan dan meningkatkan interaksi dengan tanggung jawab moral sebagai kreator. Ia menyoroti kecenderungan sebagian pembuat konten yang lebih mementingkan jumlah penonton daripada dampak informasi yang disampaikan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Yanto menegaskan bahwa kreator perlu menentukan segmen dan bidang yang sesuai dengan pengetahuan serta kemampuan masing-masing. Dengan begitu, konten yang dihasilkan memiliki keunikan dan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi audiens.
Ia juga mengingatkan bahwa konten berkualitas tidak selalu langsung viral. Sebagian karya mungkin memperoleh perhatian besar dalam waktu singkat, sedangkan karya lain berkembang secara bertahap karena memiliki manfaat dan karakter yang kuat.
Oleh sebab itu, konsistensi menjadi salah satu hal penting dalam membangun identitas kreator. Kreator dapat mengevaluasi respons audiens dan mencoba pendekatan berbeda, tetapi tetap harus menjaga kualitas serta tujuan positif dari konten yang dibuat.
Yanto turut menekankan pentingnya etika dalam proses produksi dan publikasi konten. Kreator perlu memeriksa kebenaran informasi, menghormati hak cipta, menjaga privasi orang lain, dan mempertimbangkan kemungkinan dampak dari setiap unggahan.
Ia berharap generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya inovatif dan bermanfaat, bukan sekadar mengejar popularitas atau jumlah penonton.
Dengan mengedepankan keunikan, manfaat, konsistensi, dan tanggung jawab, kreator diharapkan dapat membangun karya yang lebih berkualitas sekaligus berkontribusi dalam menciptakan ruang digital yang produktif dan beretika.


