SIJUNJUNG — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan insan seni Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Sanggar Seni Pusako Panai berhasil menembus 13 besar Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 yang diselenggarakan melalui program Indonesia Kaya, dengan mengusung karya bertajuk “Denting di Tanah Kehidupan”.
Capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi dunia seni dan kebudayaan Ranah Lansek Manih. Pasalnya, Pusako Panai berhasil melewati persaingan dan tahapan seleksi yang cukup panjang, mulai dari 100 besar, kemudian 25 besar, hingga akhirnya terpilih sebagai salah satu dari 13 kelompok seni pertunjukan terbaik dalam program tersebut.
Keberhasilan ini bukan hanya menjadi pencapaian bagi sebuah kelompok seni, tetapi juga menjadi bukti bahwa potensi kreativitas daerah mampu tumbuh dan mendapatkan tempat di panggung seni pertunjukan nasional.
Pendiri Sanggar Seni Pusako Panai, Edo Novriadi, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian yang berhasil diraih oleh seluruh tim.
Menurutnya, keberhasilan menembus 13 besar merupakan buah dari proses panjang, kerja keras, konsistensi, serta semangat para pelaku seni yang terus berupaya menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya lokal.
“Bagi kami, pencapaian ini bukan semata-mata tentang angka atau posisi 13 besar. Lebih dari itu, ini merupakan kesempatan untuk membawa identitas, cerita, dan kekayaan budaya Sijunjung ke ruang yang lebih luas. Kami ingin membuktikan bahwa dari daerah juga bisa lahir karya seni yang memiliki daya saing dan diperhitungkan di tingkat nasional,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa seni tradisi harus terus dikembangkan melalui kreativitas dan inovasi tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat.
Perjalanan Panjang Menuju 13 Besar
Perjalanan Sanggar Seni Pusako Panai dimulai dari proses pendaftaran dan seleksi program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026.
Karya “Denting di Tanah Kehidupan” kemudian melalui berbagai tahapan penilaian hingga berhasil masuk 100 besar, melanjutkan perjalanan ke 25 besar, serta mengikuti workshop, pengembangan gagasan, pitching, dan penjurian.
Setelah dinyatakan lolos 13 besar, Pusako Panai kembali menjalani proses pengembangan karya melalui workshop, diskusi kreatif, mentoring, penguatan manajemen produksi, latihan, hingga persiapan pertunjukan.
Dalam tahapan tersebut, Pusako Panai mendapatkan pendampingan dari Uni Hartati sebagai mentor bidang kreativitas dan Mba Mitae sebagai mentor bidang manajemen.
Proses pendampingan ini menjadi kesempatan penting untuk mempertajam gagasan artistik sekaligus meningkatkan kapasitas pengelolaan produksi pertunjukan.
Diperkuat Kolaborasi Seniman Lokal
Di balik pencapaian tersebut, terdapat kerja kolektif sejumlah seniman dan kru yang menjadi kekuatan utama dalam proses penciptaan karya.
Edo Novriadi, S.Pd., dipercaya sebagai pimpinan produksi, Abd. Rohman Hasan, S.Pd., sebagai koreografer, serta Tasrial Efendi, M.Pd., sebagai stage manager.
Sementara itu, tim teknis diperkuat oleh Hayatul Haqi Ahsas, Akbar Kurniawan, dan Zikri Radiansyah.
Pada bagian penampilan, enam penari yakni Suci Oktavia, Ellisha Triana Adfi, Nova Nursafitri, Tiara Ilhami, Viola Cantika Efendi, dan Amanda Saskia menjadi bagian penting dalam menerjemahkan gagasan koreografi ke dalam bahasa gerak di atas panggung.
Seluruh unsur tersebut bekerja bersama untuk mewujudkan konsep artistik menjadi sebuah pertunjukan yang memiliki karakter dan identitas.
Bukan Sekadar Prestasi, tetapi Tanggung Jawab Kebudayaan
Bagi Sanggar Seni Pusako Panai, keberhasilan menembus 13 besar merupakan awal dari perjalanan yang lebih besar. Ada tanggung jawab untuk terus menjaga eksistensi seni budaya daerah sekaligus membuka ruang bagi generasi muda agar berani berkarya dan mengembangkan potensi seni yang dimiliki.
Kehadiran Pusako Panai dalam program nasional ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kelompok-kelompok seni lainnya di Kabupaten Sijunjung untuk terus berproses, berinovasi, dan tidak ragu membawa karya daerah ke tingkat yang lebih tinggi.
Dari Sijunjung, Pusako Panai membawa semangat bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk melahirkan karya masa depan. Dari tradisi, tumbuh menjadi karya. Dari proses, menuju panggung Indonesia.


