Limapuluh Kota, Digindonews.com- Klarifikasi resmi akhirnya mematahkan isu miring terkait penggunaan mobil dinas Camry milik Ketua DPRD yang sempat viral di media sosial.
Peristiwa yang sempat memicu polemik tersebut murni terjadi akibat miskomunikasi dan situasi darurat keluarga. Setelah dilakukan konfirmasi lebih lanjut, mobil dinas tersebut terpaksa digunakan karena sopir resmi Ketua DPRD, Isap, mendadak jatuh sakit.
Di saat yang bersamaan, istri Ketua DPRD beserta rekan-rekannya harus segera berangkat ke Padang untuk urusan penting yang tidak dapat ditunda. Karena kondisi mendesak tersebut, mereka akhirnya memutuskan untuk membawa mobil Camry itu sendiri tanpa didampingi sopir dinas.
Pihak keluarga menegaskan bahwa perjalanan tersebut murni untuk urusan penting, bukan untuk bersenang-senang atau happy-happy seperti yang dituduhkan netizen.
Menyikapi hal itu, Doni menyampaikan permohonan maaf kepada publik, khususnya masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota.
“Saya meminta maaf kepada publik, khususnya masyarakat Lima Puluh Kota atas kelalaian saya,” kata Doni dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Ia menjelaskan, mobil dinas terpaksa dipakai istrinya lantaran sopir pribadi sedang pulang kampung karena sakit. Sehingga si sopir tidak bisa masuk kerja pada hari itu.
“Di saat bersamaan saya juga sedang di luar kota untuk keperluan dinas, dan istri saya ada keperluan ke kampus untuk urusannya. Rencananya, saya akan sama-sana untuk pulang dijemput dari luar kota sama istri saya,” jelasnya.
Doni menegaskan, istri dan teman-temannya tidak ada maksud untuk melukai hati masyarakat. Tindakan itu murni karena ketidak tahuan dalam memanfaatkan fasilitas negara.
“Sekali lagi, atas kondisi dan kelalaian, secara pribadi dan keluarga saya mohon maaf. Kejadian ini di luar dugaan kami dan semoga ke depan kami dapat lebih menjaga dan pergunakan fasilitas negara dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Terpisah, tokoh masyarakat Lima Puluh Kota, Ferizal Ridwan, menilai dengan permohonan maaf yang telah disampaikan Doni, sehingga persoalan tidak perlu dibesar-besarkan. Ia menyebut kasus ini sudah tidak perlu dipersoalkan dan diperdebatkan.
“Saya kira tidak perlu persoalan ini diperbesar lagi. Sebab persoalan atau kasus seperti ini karena ketidak tahuan yang bersangkutan,” kata Ferizal.
“Doni sudah menjelaskan, sopirnya dalam kondisi sakit dan tidak bisa dipaksakan untuk menyetir, setelah dicermati memang persolan etik dan pemahaman saja,” sambung Wakil Bupati Lima Puluh Kota periode 2016-2021 itu.(A$)


