DigIndonews.comDigIndonews.com
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Reading: Krisis Pangan Afrika Barat dan Kebijakan Mesir: Analisis Human Security dalam Perspektif Realisme Defensif
Share
Font ResizerAa
DigIndonews.comDigIndonews.com
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Search
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
© Sayangi.com 2022 | All Rights Reserved
DigIndonews.com > Uncategorized > Krisis Pangan Afrika Barat dan Kebijakan Mesir: Analisis Human Security dalam Perspektif Realisme Defensif
Uncategorized

Krisis Pangan Afrika Barat dan Kebijakan Mesir: Analisis Human Security dalam Perspektif Realisme Defensif

Redaksi 2 Published Februari 10, 2026
Share
Penulis : muhammad ridwan ( Mahasiswa Al Azhar Cairo )
SHARE

Afrika Barat saat ini menghadapi salah satu krisis pangan terburuk dalam sejarah kontemporer, dengan sekitar 55 juta penduduk berada dalam kondisi rawan pangan akut. Narasi dominan kerap menempatkan perubahan iklim sebagai faktor utama, namun pendekatan ini cenderung menyederhanakan kompleksitas krisis. Pada kenyataannya, konflik bersenjata, ketidakstabilan politik, dan menyusutnya pendanaan kemanusiaan memainkan peran yang jauh lebih menentukan.

Sebagai mahasiswa Mesir yang menempuh pendidikan di Mesir, saya memandang krisis ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika keamanan dan politik Afrika secara keseluruhan. Mesir, sebagai salah satu negara Afrika dengan pengaruh diplomatik signifikan, menghadapi dilema kebijakan antara tanggung jawab kemanusiaan dan kepentingan stabilitas nasional. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Mesir merespons krisis pangan Afrika Barat dan sejauh mana kebijakan tersebut mencerminkan pendekatan human security atau justru didominasi oleh kalkulasi realisme defensif.

Akar Struktural Krisis Pangan Afrika Barat

Faktor pertama dan paling krusial dalam krisis ini adalah eskalasi kekerasan dan konflik bersenjata. Pertempuran yang berkepanjangan telah menghancurkan sistem produksi pangan, mengganggu distribusi, serta memaksa jutaan orang mengungsi. Dalam kondisi demikian, bahkan wilayah dengan potensi pertanian memadai tidak mampu menjamin ketahanan pangan.

Baca Juga  Kedai 1998: Bersama Bacaleg Zeni Fariddah Perwakilan Perempuan Dari PDI-P Dapil 1 Kabupaten Berau

Faktor kedua adalah pengurangan drastis pendanaan kemanusiaan. Program Makanan Dunia (WFP) terpaksa mengurangi bantuan akibat kekurangan dana global. Konsekuensinya, jutaan penduduk kehilangan akses terhadap bantuan pangan yang sebelumnya menjadi jaring pengaman utama. Situasi ini menunjukkan bahwa krisis pangan tidak hanya disebabkan oleh kekurangan sumber daya, tetapi juga oleh kegagalan komitmen politik internasional.

Sementara itu, meskipun perubahan iklim sering dijadikan penjelasan utama, musim hujan terakhir di beberapa wilayah Afrika Barat tergolong baik. Fakta ini memperkuat argumen bahwa krisis tersebut lebih bersifat politik dan struktural daripada ekologis. Distorsi narasi ini berdampak pada arah kebijakan internasional, termasuk kecenderungan mengabaikan akar konflik bersenjata.

Kerangka Teoretis: Human Security dan Realisme Defensif

Pendekatan human security menempatkan keamanan individu—termasuk akses terhadap pangan—sebagai pusat analisis keamanan. Dalam kerangka ini, krisis pangan Afrika Barat merupakan ancaman langsung terhadap keamanan manusia dan stabilitas sosial kawasan.

Namun, kebijakan negara sering kali lebih mencerminkan realisme defensif, yaitu upaya meminimalkan ancaman terhadap stabilitas nasional. Negara bertindak bukan untuk memaksimalkan kekuasaan, melainkan untuk menghindari risiko yang dapat mengganggu keamanan domestik. Dua pendekatan ini menjadi relevan dalam menganalisis kebijakan Mesir.

Baca Juga  Pengamat Nilai Yasonna Laoly sudah Koopreatif dan Tak Terlibat dalam Kasus HM

Kebijakan Mesir terhadap Krisis Afrika Barat

Mesir memandang krisis Afrika Barat melalui lensa stabilitas regional. Instabilitas kronis di kawasan tersebut berpotensi memicu migrasi tidak teratur, perdagangan senjata, dan penyebaran kelompok bersenjata lintas kawasan. Dengan demikian, krisis pangan dipahami bukan hanya sebagai isu kemanusiaan, tetapi juga sebagai ancaman keamanan jangka panjang.

Respons Mesir cenderung bersifat diplomatik dan multilateral. Kairo mendukung peran Uni Afrika serta menyerukan kerja sama Selatan–Selatan dalam menangani krisis kemanusiaan. Namun, keterlibatan Mesir lebih banyak bersifat normatif dan politik, bukan dalam bentuk bantuan material berskala besar.

Sebagai mahasiswa yang mengamati kebijakan ini dari dalam negeri, saya melihat pendekatan tersebut sebagai refleksi keterbatasan objektif Mesir. Tantangan ekonomi domestik dan tekanan pangan internal membuat Kairo harus berhitung dalam menentukan prioritas kebijakan luar negeri. Dalam konteks ini, kebijakan Mesir menunjukkan karakter realisme defensif yang kuat.

Analisis Kritis: Batas Solidaritas dan Kepemimpinan Afrika

Baca Juga  KPU Kembali Giat Sosialisasi Pendidikan Pemilih Pasca Pemungutan Suara Untuk Pemilih Strategis dan Rentan di Daerah 3T

Meskipun pendekatan Mesir dapat dipahami secara rasional, terdapat ruang kritik yang signifikan. Sebagai salah satu negara paling berpengaruh di Afrika, Mesir memiliki kapasitas diplomatik untuk mendorong komunitas internasional meningkatkan kembali pendanaan kemanusiaan, khususnya bagi WFP. Namun, peran ini belum dimaksimalkan secara konsisten.

Dari perspektif human security, kebijakan Mesir masih cenderung reaktif dan berhati-hati. Solidaritas Afrika yang ditampilkan lebih bersifat simbolik dibandingkan transformatif. Menurut saya, tantangan utama bagi Mesir adalah mentransformasikan posisi strategisnya menjadi kepemimpinan normatif yang lebih tegas, tanpa mengorbankan stabilitas nasional.

Kesimpulan

Krisis pangan yang mengancam 55 juta penduduk Afrika Barat merupakan krisis politik dan kemanusiaan yang saling terkait. Kebijakan Mesir terhadap krisis ini mencerminkan perpaduan antara solidaritas regional dan kalkulasi realisme defensif. Dari sudut pandang mahasiswa Mesir, pendekatan ini dapat dipahami, tetapi belum sepenuhnya menjawab tuntutan kepemimpinan Afrika dalam kerangka human security. Ke depan, Mesir dihadapkan pada pilihan strategis: tetap menjadi aktor yang berhati-hati, atau mengambil peran lebih aktif dalam membentuk respons kolektif Afrika terhadap krisis kemanusiaan yang semakin sistemik.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Perkuat Dukungan Terhadap Stabilitas Ekonomi Daerah, BRI Finance Hadir di Kota Tegal
Next Article Mesir dan Politik Bertahan di Tengah Rivalitas Amerika–Tiongkok
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Daerah923
    • Agam14
    • Bukit Tinggi14
    • Limapuluh Kota408
    • Padang34
    • Payakumbuh38
    • Solok69
  • Ekonomi954
  • Headline404
  • Internasional81
  • Khazanah205
  • Lifestyle112
  • Nasional925
  • Olahraga78
  • Opini176
  • Pariwara Lipsus30
  • Politik257
  • Uncategorized265
  • Video15

Berita Lainnya

Proses Perdamaian Perkelahian Siswa di SMPN 1 Luak Selesai Secara Kekeluargaan
Mesir dan Politik Bertahan di Tengah Rivalitas Amerika–Tiongkok
Krisis Pangan Afrika Barat dan Kebijakan Mesir: Analisis Human Security dalam Perspektif Realisme Defensif
Perkuat Dukungan Terhadap Stabilitas Ekonomi Daerah, BRI Finance Hadir di Kota Tegal

Berita Terkait

(PUPR) Kota Payakumbuh meraih Penghargaan Terbaik I Penilaian Kinerja

Februari 10, 2026

Tragedi Kemanusiaan di NTT: Ketika Negara Absen dari Kehidupan Anak

Februari 5, 2026
Uncategorized

Legalisasi PETI Ala Kapolda Sumbar: Ketika Aparat Penegak Hukum Justru Menjadi Juru Damai Kejahatan Tambang

Januari 14, 2026
Uncategorized

Pengamat Politik Daerah Soroti Peran Bupati Tanah Datar dalam Kasus Perumda Tuah Sepakat

Januari 10, 2026
Show More
DigIndonews.comDigIndonews.com
Follow US
© DigIndonews.com 2024 | All Rights Reserved
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
Sign in to your account

Lost your password?