MAJALENGKA — Pengembangan UMKM di era digital tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan, tetapi juga bagaimana pelaku usaha membangun bisnis yang berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Optimalisasi Teknologi Digital untuk Pengembangan UMKM Berkelanjutan”, Senin, 28 September 2026.
Dosen STKIP Melawi Ahmad Khoiri, M.Pd., mengatakan digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi usaha melalui pemanfaatan teknologi dalam pemasaran, pembayaran, pembukuan, pengelolaan stok, pelayanan pelanggan, hingga distribusi.
Namun, digitalisasi harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem usaha yang lebih luas.
“Teknologi hanyalah alat, sementara manusia, kreativitas, dan strategi bisnis adalah penggeraknya,” ujarnya.
Menurut Ahmad, pelaku UMKM perlu memanfaatkan berbagai kanal digital sesuai kebutuhan. Media sosial dapat digunakan untuk membangun komunikasi dan promosi, marketplace untuk memperluas jangkauan pasar, WhatsApp Business untuk pelayanan pelanggan, sedangkan QRIS dapat digunakan untuk mempermudah pembayaran.
Pemanfaatan data juga dinilai penting. Pelaku usaha dapat mengetahui produk yang paling banyak terjual, waktu transaksi, profil pelanggan, serta kondisi stok melalui sistem digital.
Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan bisnis.
Ahmad menilai keberlanjutan UMKM setidaknya harus memperhatikan tiga aspek. Pertama, aspek ekonomi berupa peningkatan nilai tambah, efisiensi operasional, dan kemampuan meningkatkan pendapatan.
Kedua, aspek sosial. Digitalisasi harus dilakukan secara inklusif dan tidak menciptakan kesenjangan baru. UMKM juga diharapkan mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan membuka kesempatan kerja.
Ketiga, aspek lingkungan. Pelaku usaha perlu memperhatikan penggunaan energi, perangkat teknologi, bahan baku, serta kemasan.
Salah satu persoalan yang disorot adalah penggunaan kemasan yang menghasilkan banyak sampah. Karena itu, UMKM didorong mulai menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan dan menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle.
Ahmad juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular, yakni pendekatan usaha yang berupaya memperpanjang masa penggunaan barang, mengurangi limbah, dan memberikan nilai ekonomi terhadap barang yang sebelumnya dianggap tidak terpakai.
Menurut dia, aspek lingkungan juga harus dipikirkan sejak proses produksi hingga distribusi. Kemasan harus cukup aman untuk melindungi produk selama pengiriman, tetapi pada saat yang sama tidak menghasilkan sampah berlebihan.
Selain keberlanjutan lingkungan, kolaborasi antarpelaku usaha juga menjadi bagian penting dalam menghadapi persaingan digital.
Anggota Komisi I DPR RI Dr. H. Jefry Romdonny, M.Si., M.M., mengatakan pelaku UMKM perlu membangun kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, komunitas, platform digital, maupun sesama pelaku usaha.
Menurutnya, persaingan tidak harus selalu menghasilkan hubungan yang saling menjatuhkan. Pelaku usaha dapat bekerja sama ketika terdapat pesanan besar yang membutuhkan kapasitas produksi lebih tinggi.
Kolaborasi tersebut memungkinkan pelaku usaha memperluas kapasitas sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi pelaku UMKM lainnya.
Jefry juga menekankan pentingnya inovasi. Perubahan produk harus didasarkan pada pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, bukan sekadar mengikuti tren.
Pemanfaatan kecerdasan buatan dapat menjadi salah satu alat bantu UMKM, misalnya untuk membuat desain kemasan, materi promosi, konten media sosial, maupun membantu menyusun strategi pemasaran.
Sementara itu, Virgie Baker, S.S., M.Si., mengingatkan pelaku UMKM agar tidak berhenti pada tahap memiliki akun digital. Kehadiran digital perlu diikuti pengelolaan pelanggan, pencatatan keuangan, pengelolaan stok, pelayanan yang cepat, dan pengembangan berbagai kanal pemasaran.
Ia juga menekankan bahwa kepercayaan pelanggan harus menjadi dasar utama. Informasi produk yang ditampilkan di internet harus sesuai dengan kondisi sebenarnya, sementara keluhan pelanggan harus ditangani secara baik.
Bagi Virgie, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan UMKM.
“UMKM yang bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling cepat beradaptasi,” ujarnya.
Para narasumber sepakat bahwa optimalisasi teknologi digital harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, memperkuat tata kelola, sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.
Dengan dukungan konektivitas, peningkatan kapasitas SDM, inovasi, kolaborasi, serta perhatian terhadap aspek lingkungan, digitalisasi diharapkan tidak sekadar membuat UMKM masuk ke platform digital, tetapi mampu tumbuh menjadi usaha yang lebih modern, mandiri, dan berkelanjutan.


