Digindonews.com, BOGOR, JAWA BARAT — Keterlibatan ayah dalam pengasuhan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, kemandirian, dan kemampuan sosial anak. Karena itu, peran ayah perlu diperkuat agar tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga mencakup kehadiran fisik dan emosional dalam kehidupan keluarga.
Hal tersebut disampaikan Irfan dalam pemaparan mengenai Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) pada kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Dalam pemaparannya, Irfan menjelaskan bahwa GATI merupakan gerakan yang mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kehadiran ayah dalam tumbuh kembang anak.
Ia menyoroti fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika anak mengalami keterbatasan kehadiran atau keterlibatan ayah, baik secara fisik maupun emosional. Berdasarkan data yang disampaikan dalam materi, sekitar 29,5 persen anak di Jawa Barat atau sekitar 3,1 juta anak disebut mengalami kondisi tersebut.
Irfan menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang perlu diatasi adalah pola pikir yang menempatkan ayah semata-mata sebagai pencari nafkah, sementara pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan emosional anak lebih banyak dibebankan kepada ibu.
Menurutnya, kebutuhan anak tidak berhenti pada pemenuhan materi. Anak juga membutuhkan sosok yang dapat mendengarkan cerita, memberikan perhatian, mendampingi ketika menghadapi masalah, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Keterlibatan ayah dapat membantu anak membangun rasa aman, kepercayaan diri, dan kemandirian. Kehadiran yang berkualitas juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk mengenali perubahan perilaku anak lebih awal dan memberikan dukungan ketika anak menghadapi tekanan dalam pergaulan maupun pendidikan.
Dalam konteks perkembangan teknologi, peran tersebut menjadi semakin penting. Anak dan remaja kini menghadapi berbagai pengaruh dari media sosial, termasuk tekanan teman sebaya, perundungan siber, penggunaan gawai berlebihan, serta paparan konten yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Irfan menilai bahwa hubungan yang terbuka antara ayah dan anak dapat membantu menciptakan ruang aman untuk berdiskusi mengenai persoalan tersebut. Dengan komunikasi yang baik, anak diharapkan lebih nyaman meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Untuk memperkuat peran tersebut, GATI mengusung visi menghadirkan sosok ayah yang terlibat secara utuh dalam kehidupan anak, baik secara fisik, pikiran, maupun emosional.
Irfan menjelaskan empat pilar yang menjadi dasar pembentukan ayah teladan, yaitu Presence, Connection, Character, dan Partnership.
Pilar pertama, Presence, menekankan pentingnya kehadiran ayah secara berkualitas. Ayah didorong menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi dengan anak tanpa terdistraksi gawai, misalnya dengan mengobrol, bermain, atau melakukan kegiatan bersama.
Pilar kedua, Connection, berkaitan dengan pembentukan ikatan emosional. Ayah diharapkan menjadi sosok yang dapat dipercaya dan bersedia mendengarkan cerita anak dengan empati, sehingga anak merasa aman ketika ingin menyampaikan perasaan maupun persoalan yang dihadapinya.
Pilar ketiga, Character, menekankan keteladanan. Anak belajar melalui perilaku orang tua, sehingga ayah perlu menunjukkan integritas, tanggung jawab, kerja keras, dan sikap saling menghormati dalam kehidupan keluarga.
Pilar keempat, Partnership, menekankan kerja sama antara ayah dan ibu dalam pengasuhan. Tanggung jawab membesarkan anak dan mengelola kebutuhan rumah tangga perlu dibangun melalui pembagian peran yang seimbang sesuai kondisi keluarga.
Untuk menerapkan nilai-nilai tersebut, GATI mendorong berbagai kegiatan, antara lain Akademi Ayah, kelas pengasuhan, seminar interaktif, lokakarya, dan Ruang Curhat sebagai wadah berbagi pengalaman antarayah.
Selain itu, kampanye melalui media sosial dapat dilakukan dengan mengajak ayah meluangkan waktu bermain bersama anak selama 15 menit atau melakukan kegiatan sederhana lainnya. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten diharapkan dapat memperkuat hubungan antara ayah dan anak.
Irfan juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan kerja dan kebijakan yang lebih ramah keluarga. Kesempatan bagi ayah untuk mendampingi pasangan dan anak, termasuk pada masa awal kelahiran, dapat membantu memperkuat keterlibatan ayah sejak dini.
Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai melalui kegiatan besar. Ayah dapat memulainya dengan mendengarkan cerita anak setelah pulang bekerja, membantu anak belajar, menemani aktivitas sehari-hari, atau memberikan perhatian ketika anak menghadapi kesulitan.
Ia menegaskan bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama. Ayah dan ibu perlu membangun komunikasi dan kerja sama agar anak memperoleh dukungan yang cukup untuk berkembang secara fisik, emosional, dan sosial.
Melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia, diharapkan semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Kehadiran yang berkualitas, kedekatan emosional, keteladanan, dan kemitraan orang tua menjadi fondasi untuk membangun keluarga yang kuat serta generasi yang mandiri, bertanggung jawab, dan berdaya saing.***


