DigIndonews.comDigIndonews.com
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Reading: Dari C-Suite ke Founder Posthinks Agency: Kenapa Semakin Banyak Eksekutif Senior Pilih Bangun Agency Sendiri di Usia Produktif?
Share
Font ResizerAa
DigIndonews.comDigIndonews.com
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Search
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
© Sayangi.com 2022 | All Rights Reserved
DigIndonews.com > Ekonomi > Dari C-Suite ke Founder Posthinks Agency: Kenapa Semakin Banyak Eksekutif Senior Pilih Bangun Agency Sendiri di Usia Produktif?
Ekonomi

Dari C-Suite ke Founder Posthinks Agency: Kenapa Semakin Banyak Eksekutif Senior Pilih Bangun Agency Sendiri di Usia Produktif?

vrtitimes Published Juni 25, 2026
Share
SHARE

Digindonews.com – Ada momen di mana saya duduk di ruangan yang nyaman, jabatan yang tertulis jelas di kartu nama, dan gaji yang masuk otomatis setiap tanggal satu lalu bertanya: seberapa lama saya mau terus begini?

Pertanyaan itu bukan muncul karena tidak bahagia. Justru sebaliknya saya sedang di titik terbaik karier korporat saya. Chief Sales & Marketing Officer, empat tahun lebih di sebuah perusahaan mediaa & agency, memimpin tim sales, digital strategy, social media, dan influencer marketing. Semua angka tumbuh. Semua orang bilang karier saya bagus.

Tapi ada sesuatu yang tidak bisa saya abaikan: saya tahu persis apa yang hilang dari industri ini, dan saya tahu cara mengisinya.

Ini Bukan Soal Kabur Ini Soal Kalkulasi

Ada kesalahpahaman besar tentang eksekutif yang memilih keluar dari korporat untuk membangun sesuatu sendiri. Banyak yang menganggap ini keputusan emosional burnout, konflik internal, atau sekadar bosan rutinitas.

Kenyataannya, setidaknya untuk saya dan banyak eksekutif yang saya kenal, ini adalah keputusan yang sangat kalkulatif.

Setelah lebih dari satu dekade di industri digital dari Suara Merdeka, Kompas Gramedia, RWE Digital Agency, Okezone, kumparan, hingga Urbanasia saya punya sesuatu yang tidak ternilai: peta lengkap ekosistemnya. Saya tahu cara kerja media nasional dan lokal dari dalam. Saya tahu apa yang benar-benar dibutuhkan brand tapi tidak bisa mereka minta secara eksplisit. Saya tahu mana strategi yang kelihatan bagus di pitch deck tapi gagal di eksekusi.

Baca Juga  Posko Angkutan Lebaran 2026 Berakhir, Namun Pelayanan ke Pelanggan Tak Pernah Berhenti

Di titik itu, pertanyaannya bukan lagi “berani tidak?” tapi “kenapa tidak sekarang?”

Gap yang Tidak Ada yang Mengisi

Saya mendirikan Posthinks pada tahun 2019 bukan karena ingin punya perusahaan sendiri sebagai tujuan tapi karena saya melihat gap yang nyata.

Brand-brand besar di Indonesia punya anggaran marketing yang besar. Tapi mereka sering kali berjalan dengan strategi yang terfragmentasi: satu vendor untuk influencer, satu lagi untuk media placement, satu lagi untuk SEO, satu lagi untuk data. Hasilnya? Tidak ada yang terintegrasi. Tidak ada yang bisa diaudit secara menyeluruh.

Posthinks lahir sebagai jawaban atas itu: satu ekosistem yang menggabungkan big data, 100.000+ talent dan buzzer, 500+ content clipper, 10.000+ media network, SEO, dan media buying semuanya terkoneksi dan terukur.

Baca Juga  Unitree Diluncurkan di Indonesia, Bermitra dengan Halo Robotics untuk Membuka Pasar Terbesar Asia Tenggara bagi Robot Humanoid dan Quadruped

Hasilnya bukan teori. Dalam waktu satu setengah tahun, kami sudah menangani kampanye untuk Pertamina, Shopee, Telkom, OCBC, Unilever, BRI dan menghasilkan angka yang bisa dipertanggungjawabkan: 3 juta unique visitors per bulan untuk OCBC.

Tren yang Sedang Kita Saksikan Bersama

Saya bukan satu-satunya. Dalam lima tahun terakhir, semakin banyak eksekutif senior VP, C-level, GM yang memilih keluar dari korporat di usia produktif untuk membangun sesuatu sendiri. Ini bukan krisis identitas. Ini adalah pergeseran yang logis.

Ada tiga hal yang membuat momen ini berbeda dari generasi sebelumnya:

Pertama, ekosistem pendukung semakin matang. Talenta freelance berkualitas, platform teknologi yang powerful, dan akses ke jaringan yang dulu hanya dimiliki korporat besar sekarang bisa dibangun oleh tim kecil yang tepat.

Kedua, klien semakin sophisticated. Mereka tidak lagi mencari vendor terbesar mereka mencari yang paling paham industri mereka. Dan tidak ada yang lebih paham industri daripada orang yang sudah bertahun-tahun bergerak di dalamnya dari level strategis.

Ketiga, window of opportunity tidak menunggu. Di industri yang bergerak secepat digital marketing, mereka yang punya network, insight, dan track record punya keunggulan yang sangat konkret tapi keunggulan itu memiliki shelf life. Semakin lama ditunda, semakin tipis keunggulan itu.

Baca Juga  BRI Finance Optimalkan Potensi Pasar Daerah melalui Pameran Otomotif di Banyuwangi

Pertanyaan yang Seharusnya Ditanyakan

Kalau Anda seorang eksekutif senior yang pernah sekilas memikirkan hal yang sama, izinkan saya balik bertanya:

Apa yang sudah Anda ketahui dari dalam industri yang belum bisa dilakukan oleh orang lain dengan benar? Dan berapa lama lagi Anda akan menyimpan pengetahuan itu untuk organisasi orang lain?

Saya tidak sedang bilang semua orang harus jadi founder. Tapi saya sedang bilang: usia produktif adalah aset dan pilihan terbaik untuk aset itu bukan selalu berada di dalam struktur yang sudah ada.

Kadang, keputusan terbaik adalah membangun meja Anda sendiri.

About Posthinks Digital Agency

Selo Pangestu Imawan adalah Founder & CEO Posthinks Agency 360° media-tech agency yang mengintegrasikan big data, influencer ecosystem, viral content, media network, dan SEO dalam satu ekosistem terukur. 

Sebelumnya menjabat Chief Sales & Marketing Officer di Urbanasia Group dan Digital Strategy Manager di kumparan.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article CRM Indonesia Rating Tertinggi: Barantum Raih 4,9/5 dari 1.200+ Ulasan Google
Next Article Produk Premium Eropah Kembali ke MIFB Malaysia
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Daerah1,141
    • Agam14
    • Bukit Tinggi14
    • Limapuluh Kota426
    • Padang35
    • Payakumbuh208
    • Solok73
  • Ekonomi1,735
  • Headline408
  • Internasional82
  • Khazanah222
  • Lifestyle112
  • Nasional989
  • Olahraga79
  • Opini182
  • Pariwara Lipsus31
  • Politik261
  • Uncategorized288
  • Video15

Berita Lainnya

Produk Premium Eropah Kembali ke MIFB Malaysia
Dari C-Suite ke Founder Posthinks Agency: Kenapa Semakin Banyak Eksekutif Senior Pilih Bangun Agency Sendiri di Usia Produktif?
CRM Indonesia Rating Tertinggi: Barantum Raih 4,9/5 dari 1.200+ Ulasan Google
Sneak Peek: Purana dan Puragraph Umumkan Kolaborasi “Liveable Art” Revolusioner Bersama Afganial di YATS Colony Yogyakarta

Berita Terkait

Ekonomi

Kolaborasi Dinkop dan UNAIR Perkuat Langkah Koppontren Menuju Koperasi Modern

Juni 25, 2026
Ekonomi

BRI Finance Jaga Strategi Pendanaan Tetap Optimal di Tengah Kenaikan BI-Rate

Juni 24, 2026
Ekonomi

BRI Finance Hadirkan Solusi Dana Tunai Praktis untuk Liburan Akhir Pekan

Juni 24, 2026
Ekonomi

BRI Region 6 dan YBM BRI Jakarta Berbagi Santunan Anak Yatim Muharam

Juni 24, 2026
Show More
DigIndonews.comDigIndonews.com
Follow US
© DigIndonews.com 2024 | All Rights Reserved
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
Sign in to your account

Lost your password?