Digindonews.com, KABUPATEN BEKASI — Pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pendataan keluarga, pemenuhan kebutuhan gizi, peningkatan akses sanitasi, hingga penguatan pengasuhan anak. Karena itu, pemanfaatan data kependudukan dan kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam memastikan program pembangunan keluarga menjangkau masyarakat sesuai kebutuhannya.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pemaparan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si., pada kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Bekasi, Senin (12/10/2026).
Dadi menjelaskan bahwa Jawa Barat memiliki jumlah penduduk yang besar dan menghadapi beragam tantangan dalam pembangunan keluarga. Berdasarkan data BPS tahun 2026 yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai 51.163.888 jiwa.
Besarnya jumlah penduduk tersebut membutuhkan perencanaan program yang terarah agar pelayanan publik dan intervensi pembangunan dapat menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan. Data mengenai kelahiran, pernikahan, kehamilan, serta kondisi keluarga menjadi salah satu dasar untuk menentukan kebutuhan pelayanan dan menyusun program yang sesuai.
Dalam pemaparannya, Dadi menyampaikan data keluarga berisiko stunting di Jawa Barat. Berdasarkan data tahun 2025 yang dipaparkan, terdapat 14.007.286 keluarga, dengan 7.565.605 keluarga sasaran dan 1.443.350 keluarga berisiko stunting.
Ia juga menyoroti persoalan akses terhadap kebutuhan dasar. Materi yang disampaikan mencatat sebanyak 261.331 keluarga tidak memiliki sumber air minum utama yang layak, sedangkan 587.760 keluarga tidak memiliki jamban yang layak.
Data tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting tidak dapat hanya mengandalkan intervensi gizi. Kondisi lingkungan tempat tinggal, ketersediaan air minum yang layak, sanitasi, dan perilaku hidup sehat turut memengaruhi kualitas kesehatan keluarga.
Karena itu, penanganan keluarga berisiko stunting memerlukan koordinasi berbagai sektor. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan mitra swasta dapat berkontribusi sesuai dengan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.
Dadi juga memaparkan pentingnya pendataan keluarga untuk memahami karakteristik masyarakat pada berbagai tahap kehidupan. Data yang disampaikan mencakup pasangan usia subur, keluarga dengan kepala keluarga perempuan, keluarga yang memiliki anak usia dini, kelompok remaja, hingga penduduk lanjut usia.
Informasi tersebut dapat membantu pemerintah dan pemangku kepentingan menentukan kelompok prioritas serta merancang intervensi yang lebih sesuai. Keluarga dengan ibu hamil dan anak balita, misalnya, membutuhkan perhatian terhadap kesehatan ibu, pemenuhan gizi, pengasuhan, dan kondisi lingkungan.
Dalam rangka memperkuat pelaksanaan pembangunan keluarga, Kemendukbangga/BKKBN juga menjalankan sejumlah program prioritas atau Quick Win.
Salah satunya adalah GENTING atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Program ini berfokus pada dukungan bagi keluarga rentan stunting melalui bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam materi sosialisasi disebutkan target bantuan bagi satu juta anak, dengan pelaksanaan yang melibatkan berbagai unsur, termasuk kader posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat.
Selain GENTING, terdapat program TAMASYA atau Taman Asuh Sayang Anak yang mendorong penyediaan layanan pengasuhan berkualitas. Program ini diarahkan untuk mendukung tumbuh kembang anak melalui lingkungan pengasuhan yang aman dan sesuai kebutuhan, termasuk dengan dukungan tenaga profesional.
Program GATI atau Gerakan Ayah Teladan Indonesia juga menjadi bagian dari pendekatan pembangunan keluarga. Melalui program tersebut, keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendampingan anak diharapkan semakin meningkat sehingga tanggung jawab membangun keluarga tidak hanya bertumpu pada satu pihak.
Sementara itu, program Lansia Berdaya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk lanjut usia melalui dukungan kesehatan, pendampingan berbasis komunitas, serta pemberdayaan sesuai kemampuan mereka.
Berbagai program tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan keluarga membutuhkan pendekatan sepanjang siklus kehidupan. Pencegahan stunting, pengasuhan anak, penguatan peran orang tua, dan pemberdayaan lansia merupakan bagian yang saling berkaitan dalam meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Dadi menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga terkait, organisasi masyarakat, dan pihak swasta dalam pelaksanaan program. Dengan dukungan data yang memadai dan intervensi yang sesuai kebutuhan, pembangunan keluarga di Jawa Barat diharapkan dapat berjalan lebih terarah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui penguatan pendataan dan kolaborasi lintas sektor, upaya pencegahan stunting diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan masalah yang telah terjadi, tetapi juga pada pencegahan sejak dini melalui penguatan keluarga dan perbaikan lingkungan hidup.***


