Digindonews.com – Komunikasi yang cepat, akurat, dan terkoordinasi menjadi salah satu kunci dalam menghadapi situasi kebencanaan di era digital. Di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial, pemerintah dinilai perlu membangun sistem komunikasi satu pintu agar masyarakat memperoleh informasi yang konsisten dan dapat dipercaya.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi I DPR RI, Okta Kumala Dewi, S.E., M.AK., dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Komunikasi Krisis di Era Digital: Strategi Menghadapi Situasi Kebencanaan”, Jumat (2/10/2026).
Okta mengatakan, meningkatnya berbagai kejadian bencana membuat kebutuhan terhadap komunikasi krisis semakin penting. Masyarakat membutuhkan kepastian mengenai kehadiran pemerintah, baik dalam penanganan bencana maupun dalam penyampaian informasi yang kredibel.
“Komunikasi krisis yang optimal menjadi keharusan untuk membangun kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi memberikan kemudahan dalam mempercepat penyebaran informasi. Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan berupa hoaks dan disinformasi yang dapat menyebar dengan sangat cepat.
Ia mencontohkan, pada Mei 2024 Kementerian Komunikasi dan Digital telah melakukan klarifikasi terhadap hoaks video tornado yang telah ditonton lebih dari dua ribu kali.
Menurut Okta, penyebaran informasi yang tidak benar dalam situasi krisis dapat memicu kepanikan, memperbesar perpecahan di tengah masyarakat, serta menghambat upaya pemerintah dalam menangani bencana.
Karena itu, ia menilai diperlukan sistem komunikasi satu pintu antara Kementerian Komunikasi dan Digital dengan pemerintah daerah. Sistem tersebut diharapkan dapat memastikan informasi yang diterima masyarakat berasal dari sumber yang terpercaya, faktual, konsisten, dan disampaikan secara cepat.
“Dengan penyampaian komunikasi krisis yang konsisten, faktual, dan cepat, diharapkan dapat mengurangi misinformasi dan hoaks yang beredar,” katanya.
Okta juga menyampaikan bahwa Komisi I DPR RI terus mendorong penguatan ekosistem digital nasional. Salah satunya melalui kunjungan kerja spesifik bersama BAKTI Komdigi untuk melihat kondisi infrastruktur telekomunikasi di wilayah 3T serta membahas keberlangsungan konektivitas ketika infrastruktur komunikasi terganggu akibat bencana.
Sementara itu, Plt. Direktur Layanan TI Badan Usaha BAKTI Komdigi, Dr. Yulis Widyo Marfiah, S.T., M.T., menegaskan bahwa konektivitas merupakan fondasi penting dalam komunikasi krisis.
Menurutnya, ketika bencana terjadi, masyarakat biasanya langsung menggunakan telepon seluler dan aplikasi komunikasi untuk mencari informasi, menghubungi keluarga, serta mengetahui kondisi lingkungan sekitar.
“Dalam situasi bencana, komunikasi bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sudah menjadi bagian dari keselamatan,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa bencana saat ini berlangsung dalam dua ruang sekaligus, yakni ruang fisik dan ruang digital. Ketika banjir, gempa, atau longsor terjadi, pada saat yang sama informasi berupa foto, video, dan pesan berantai dapat beredar dengan cepat.
Karena itu, menurut Yulis, gangguan teknis pada jaringan komunikasi jangan sampai berkembang menjadi krisis kepercayaan. Informasi resmi harus segera diberikan untuk mengisi ruang informasi sehingga tidak dikuasai oleh spekulasi dan rumor.
Ia menekankan pentingnya 60 menit pertama atau golden hour dalam komunikasi krisis. Pada periode tersebut, tim terkait perlu memvalidasi informasi minimum mengenai apa yang terjadi, lokasi kejadian, dan dampaknya.
“Cepat bukan berarti tergesa-gesa. Sampaikan apa yang sudah diketahui, apa yang belum diketahui, dan kapan masyarakat dapat memperoleh pembaruan informasi berikutnya,” ujarnya.
Akademisi dan Praktisi Pendidikan, Romdoni, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga kualitas informasi saat bencana.
Menurutnya, setiap warga digital kini memiliki kemampuan untuk menjadi penyebar informasi. Karena itu, masyarakat harus memastikan kebenaran informasi sebelum membagikannya.
“Jadilah orang pertama yang memastikan informasi itu benar, bukan hanya orang pertama yang menyebarkan informasi,” tegasnya.***


