Jakarta, 27 Februari 2026 – Pernyataan Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang menegaskan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) merupakan mitra dan sahabat masyarakat dalam posisi yang setara mendapat respons positif dari berbagai elemen masyarakat.
Sebagai bagian dari elemen masyarakat, Benny Ario menyatakan dukungannya terhadap komitmen tersebut. Ia menilai, penegasan bahwa Polri dan masyarakat adalah “anak kandung reformasi” mengandung makna historis dan tanggung jawab moral yang besar dalam menjaga arah demokrasi Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Kapolri dalam acara buka puasa bersama sejumlah organisasi masyarakat (ormas), Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), hingga mahasiswa di Auditorium Mutiara STIK/PTIK Polri, Jakarta Selatan, Kamis (26/2). Dalam kesempatan itu, Kapolri menekankan pentingnya hubungan yang setara antara kepolisian dan masyarakat sipil sebagai fondasi stabilitas nasional.
Menurut Benny Ario, semangat reformasi 1998 telah membawa perubahan besar dalam tata kelola negara, termasuk dalam tubuh kepolisian yang kini berdiri sebagai institusi profesional dan mandiri. Karena itu, konsep kemitraan dan persahabatan antara Polri dan masyarakat harus diwujudkan dalam pendekatan yang humanis, transparan, serta akuntabel.
“Komitmen menjadikan Polri sebagai mitra dan sahabat masyarakat harus tercermin dalam pelayanan publik yang adil, terbuka terhadap kritik, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia,” ujar Benny Ario dalam keterangannya, Jumat (27/2).
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh diposisikan hanya sebagai objek dalam penegakan hukum, melainkan sebagai subjek yang memiliki hak untuk didengar dan dihormati. Dalam kerangka demokrasi, dukungan masyarakat terhadap kepolisian akan semakin kuat apabila ada konsistensi antara pernyataan pimpinan dan implementasi di lapangan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa sebagai elemen masyarakat, dirinya siap mendukung langkah-langkah Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), memberantas kejahatan, serta menciptakan situasi kondusif di tengah dinamika sosial dan politik. Namun demikian, fungsi kontrol sosial tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan demokrasi.
“Kemitraan sejati berarti saling menghormati dan saling mengingatkan. Dukungan dan kritik harus berjalan seimbang demi memperkuat institusi dan menjaga kepercayaan publik,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar forum dialog seperti yang dilakukan dalam kegiatan buka puasa bersama tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi pola komunikasi berkelanjutan antara kepolisian dan berbagai elemen masyarakat, termasuk pemuda dan mahasiswa.
Menurutnya, apabila semangat kesetaraan benar-benar diterapkan, maka hubungan antara Polri dan masyarakat akan semakin solid, kepercayaan publik meningkat, dan stabilitas nasional dapat terjaga dengan lebih baik.
“Reformasi telah menempatkan rakyat dan institusi negara dalam posisi yang sejajar. Jika komitmen ini dijalankan secara konsisten, maka demokrasi Indonesia akan semakin matang,” tutup Benny Ario.


