Jakarta, 8 Januari 2026 – Ketua Indonesia Youth Epicentrum (IYE), Benny Ario, menegaskan bahwa sikap Badan Gizi Nasional (BGN) yang memastikan tidak adanya penggunaan susu impor dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah yang tepat, terukur, dan sesuai dengan arah kebijakan pembangunan nasional.
“Keputusan BGN jelas dan terarah. Tidak ada ruang untuk produk impor dalam program MBG. Ini bukan hanya soal gizi, tetapi tentang keberpihakan negara kepada produsen lokal dan penguatan ekonomi domestik,” ujar Benny Ario dalam keterangan resminya di Jakarta.
Kebijakan BGN Berbasis Fakta, Bukan Sekadar Wacana
Benny menjelaskan bahwa IYE menilai BGN telah mengambil keputusan berdasarkan pemetaan kebutuhan nasional dan potensi produksi setiap daerah. Kebijakan ini bukan muncul karena tekanan, melainkan didasari kajian komprehensif.
“BGN bekerja berdasarkan data. Daerah yang memiliki populasi sapi perah bisa memaksimalkan susu lokal, sementara daerah tanpa produksi susu dapat menggunakan alternatif gizi lain. Semua sudah dirumuskan dengan baik,” jelas Benny.
Menjaga Stabilitas Ekonomi dan Keberlanjutan Produksi Dalam Negeri
Benny menilai program MBG tidak hanya berfungsi sebagai intervensi gizi, tetapi juga sebagai pengungkit ekonomi bagi peternak dan pelaku UMKM nasional. Ia menegaskan bahwa jika impor dibuka, dampaknya akan merugikan banyak pihak di dalam negeri.
“Peternak lokal harus mendapatkan ruang. Program MBG adalah peluang untuk memperkuat ekosistem produksi dalam negeri. Jika impor dibuka, stabilitas ekonomi peternak lokal akan terganggu. Itu yang sedang dicegah oleh BGN,” katanya.
Hindari Penafsiran Keliru di Daerah
Ketua IYE juga mengingatkan seluruh pemerintah daerah agar tidak salah menafsirkan kebijakan BGN. Ia menegaskan bahwa setiap daerah harus mengikuti arahan pusat dan tidak mengada-ada alasan untuk membuka pintu impor.
“Kebijakan ini sudah jelas. Tidak perlu ada argumentasi tambahan atau pembenaran untuk melakukan hal di luar ketentuan. Yang diperlukan adalah konsistensi pelaksanaan,” tegas Benny.
IYE Dorong Sinergi Nasional untuk Mengoptimalkan Rantai Pasok
IYE menilai bahwa BGN telah membuka ruang kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, koperasi susu, dan UMKM untuk memperkuat rantai suplai dalam negeri. Benny menekankan pentingnya kerja sama itu agar implementasi MBG berjalan efektif.
“Semua pihak harus berkolaborasi. Jika rantai pasok diperkuat, kebutuhan nasional dapat terpenuhi tanpa bergantung pada produk asing. Ini langkah strategis untuk kemandirian pangan,” katanya.
Penutup: Kebijakan BGN Adalah Cerminan Keberpihakan Negara
Benny menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa langkah BGN sudah sangat sejalan dengan visi besar pemerintah mengenai kemandirian pangan dan penguatan ekonomi lokal.
“Keputusan BGN adalah cerminan keberpihakan negara. Ini langkah yang patut diapresiasi dan dipertahankan karena membawa dampak luas bagi peternak, UMKM, dan masyarakat. Kita harus mendukung arah kebijakan yang menegaskan bahwa produk lokal adalah prioritas,” pungkas Benny Ario.


