DigIndonews.comDigIndonews.com
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Reading: Kontroversi Anggaran MBG: Analis Kebijakan Sebut Ada Kesenjangan antara Narasi Publik dan Realitas Sosial.
Share
Font ResizerAa
DigIndonews.comDigIndonews.com
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Search
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
© Sayangi.com 2022 | All Rights Reserved
DigIndonews.com > Headline > Kontroversi Anggaran MBG: Analis Kebijakan Sebut Ada Kesenjangan antara Narasi Publik dan Realitas Sosial.
HeadlineNasional

Kontroversi Anggaran MBG: Analis Kebijakan Sebut Ada Kesenjangan antara Narasi Publik dan Realitas Sosial.

Redaksi 2 Published Februari 26, 2026
Share
Oleh: Abdul Halim Wijaya Siregar, Analis Kebijakan dan juga Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Indonesia
Oleh: Abdul Halim Wijaya Siregar, Analis Kebijakan dan juga Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Indonesia
SHARE

JAKARTA — Pernyataan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menegaskan bahwa anggaran bahan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya berkisar Rp8.000–Rp10.000 per porsi, bukan Rp15.000, memantik kritik dari kalangan analis kebijakan publik.

Analis Kebijakan Abdul Halim Wijaya Siregar menilai, polemik ini bukan sekadar persoalan salah tafsir angka, melainkan mencerminkan adanya kesenjangan serius antara narasi publik pemerintah dan realitas yang diterima masyarakat di lapangan.

“Ketika pemerintah sejak awal membangun persepsi publik bahwa anggaran MBG sekitar Rp15.000 per porsi, tetapi kemudian dijelaskan bahwa bahan makanannya hanya Rp8.000 sampai Rp10.000, maka yang terjadi adalah disonansi kebijakan. Publik merasa dibicarakan satu hal, tetapi diberi hal lain,” ujar Abdul Halim, Rabu (25/2).

Menurutnya, dalam logika kebijakan publik, angka anggaran bukan sekadar data teknis, melainkan instrumen legitimasi sosial. Ketika angka tersebut tidak sejalan dengan hasil nyata di piring makan penerima manfaat, maka yang tergerus bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga makna substantif dari program itu sendiri.

Baca Juga  Benny Ario: Klarifikasi BGN Wujud Transparansi Program MBG

“Program ini disebut ‘makan bergizi’, artinya inti kebijakan ada pada kualitas dan kecukupan gizi. Jika sebagian besar anggaran justru habis untuk biaya operasional dapur, insentif mitra, dan logistik, maka tujuan normatif program berpotensi bergeser menjadi sekadar proyek administrasi pangan,” katanya.

Abdul Halim menilai, problem utama MBG saat ini bukan semata besar-kecilnya anggaran, melainkan cara pemerintah mengomunikasikan struktur anggaran kepada publik. Menurut dia, publik wajar mengasumsikan bahwa angka yang diumumkan pemerintah adalah nilai makanan yang benar-benar dikonsumsi anak.

“Dalam kebijakan yang sehat, narasi dan realitas harus bertemu. Jika negara mengatakan satu porsi bernilai Rp15.000, maka publik berharap nilai gizi dan kualitas makanannya mendekati angka itu. Ketika ternyata hanya separuhnya untuk bahan pangan, wajar jika muncul kecurigaan dan ketidakpuasan,” ujarnya.

Baca Juga  Langkah - Langkah Promosi Wisata Melalui Media Digital

Ia juga menyoroti dampak politik kebijakan tersebut. Di tengah naiknya harga pangan dan tekanan ekonomi rumah tangga, program MBG diposisikan sebagai simbol keberpihakan negara pada rakyat. Namun, bila hasil di lapangan dianggap tidak sepadan dengan klaim anggaran, maka program itu justru berisiko berubah menjadi beban legitimasi politik bagi pemerintah.

“Ini bukan sekadar urusan dapur dan menu, tetapi menyangkut kredibilitas kebijakan publik. Ketika realitas piring makan tidak sejalan dengan narasi anggaran, maka yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap negara,” kata Abdul Halim.

Ia mendorong pemerintah untuk melakukan koreksi terbuka, baik dengan menyesuaikan besaran anggaran bahan makanan agar lebih realistis dengan standar gizi, maupun dengan mengubah cara menyampaikan informasi anggaran secara jujur dan sederhana kepada publik.

Baca Juga  DPC Bukittinggi Usul Gibran Cawapres Prabowo 

“Negara tidak boleh berlindung di balik rincian teknis. Jika memang bahan makanan hanya Rp8.000–Rp10.000, maka sampaikan sejak awal bahwa itu yang dimakan anak-anak. Jangan membangun persepsi seolah-olah mereka menerima porsi senilai Rp15.000,” tegasnya.

Menurut Abdul Halim, keberhasilan MBG tidak diukur dari jumlah dapur atau panjang rantai distribusi, melainkan dari seberapa jauh program itu benar-benar memperbaiki kondisi gizi anak dan siswa secara nyata.

“Jika kebijakan ingin dihormati, ia harus jujur. Dan jika ingin dipercaya, ia harus bisa dirasakan. Dalam kasus MBG, persoalan utamanya bukan di angka, tetapi di jurang antara narasi kebijakan dan realitas piring makan,” pungkasnya

TAGGED:Abdul Halim Wijaya Siregarmakan bergizi gratisMBG
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link
What do you think?
Love0
Sad0
Happy1
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Mengenal Program Studi Teknik Industri dan Perannya di Berbagai Sektor
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Daerah951
    • Agam14
    • Bukit Tinggi14
    • Limapuluh Kota410
    • Padang34
    • Payakumbuh56
    • Solok73
  • Ekonomi1,023
  • Headline406
  • Internasional81
  • Khazanah207
  • Lifestyle112
  • Nasional929
  • Olahraga79
  • Opini177
  • Pariwara Lipsus30
  • Politik259
  • Uncategorized267
  • Video15

Berita Lainnya

Oleh: Abdul Halim Wijaya Siregar, Analis Kebijakan dan juga Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Indonesia
Kontroversi Anggaran MBG: Analis Kebijakan Sebut Ada Kesenjangan antara Narasi Publik dan Realitas Sosial.
Mengenal Program Studi Teknik Industri dan Perannya di Berbagai Sektor
Open Networks dan AI Dorong Transformasi Digital Global South
Emas Masih Berpeluang Menguat, XAU/USD Berpotensi Sentuh 5.100 di Akhir Februari

Berita Terkait

Andreas H. Silalahi, Ketua DPP GMNI Bidang Geopolitik
HeadlineNasionalPolitik

DPP GMNI Bidang GEOPOLITIK : Perjanjian ART RI-AS adalah Bentuk Ketergantungan Baru

Februari 24, 2026
Nasional

Soal Tuntutan Mundur Kapolrestabes Medan, Analis Nilai Tak Berdasar, Stop Narasi Liar

Februari 21, 2026
Kapolres Sijunjung AKBP Willian Harbensyah, SIK, MH Terima penghargaaan dari Presiden RI Prabowo Subianto
Nasional

Kapolres Sijunjung AKBP Wiliian Harbensyah Ukir Sejarah, Terima Penghargaan Negara Langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto

Februari 14, 2026
Nasional

Padang Lawas dan Paradoks Negara Hukum: Jaksa, Dana Desa, dan Relasi Kuasa Kepala Daerah 

Februari 9, 2026
Show More
DigIndonews.comDigIndonews.com
Follow US
© DigIndonews.com 2024 | All Rights Reserved
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
Sign in to your account

Lost your password?