CIKARANG – Keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak menjadi salah satu faktor penting dalam membangun keluarga berkualitas. Peran ayah tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga mencakup pemberian perhatian, kasih sayang, bimbingan, dan pendampingan dalam setiap tahap perkembangan anak.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Elma Triyulianti, S.Psi., M.M., saat memaparkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Cikarang, Jawa Barat, Sabtu (17/10/2026).
Elma menjelaskan, GATI merupakan salah satu program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN yang bertujuan meningkatkan keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga, khususnya pengasuhan anak dan pendampingan remaja.
Menurutnya, kehadiran ayah memiliki arti penting dalam mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, dan pembentukan karakter anak. Karena itu, ayah diharapkan tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga membangun komunikasi dan kedekatan emosional dengan anak.
Dalam pemaparannya, Elma menyoroti fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika anak tidak mendapatkan kehadiran atau keterlibatan ayah secara memadai. Kondisi ini tidak selalu berarti ayah tidak tinggal bersama keluarga, tetapi dapat pula terjadi ketika ayah berada di rumah namun kurang terlibat dalam pengasuhan dan komunikasi dengan anak.
Ia menjelaskan, sejumlah faktor dapat memengaruhi keterlibatan ayah, mulai dari perceraian dan kematian, tuntutan pekerjaan, konflik rumah tangga, tekanan ekonomi, hingga kurangnya pengetahuan mengenai pengasuhan. Penggunaan perangkat digital secara berlebihan juga dapat mengurangi waktu interaksi antara orang tua dan anak apabila tidak dikelola dengan baik.
Berdasarkan data Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025 yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, angka fatherless di Jawa Barat tercatat sebesar 29,5 persen. Data tersebut menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap hubungan orang tua dan anak serta penguatan peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Elma menjelaskan bahwa kurangnya keterlibatan ayah dapat berkaitan dengan berbagai tantangan dalam perkembangan anak. Anak membutuhkan dukungan emosional, komunikasi yang baik, dan figur teladan untuk membantu membangun rasa percaya diri, kemandirian, serta kemampuan berinteraksi dengan lingkungan.
Pada anak perempuan, kurangnya pendampingan dapat berkaitan dengan persoalan kepercayaan diri, kebutuhan akan pengakuan, dan kecemasan dalam hubungan sosial. Sementara itu, pada anak laki-laki, keterbatasan keterlibatan ayah dapat mengurangi kesempatan memperoleh teladan mengenai tanggung jawab, pengendalian diri, dan hubungan yang sehat.
Meski demikian, perkembangan setiap anak dipengaruhi banyak faktor, termasuk hubungan dengan ibu, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, penguatan peran ayah perlu berjalan bersama dengan dukungan seluruh anggota keluarga dan lingkungan yang aman bagi anak.
Melalui program GATI, BKKBN mendorong para ayah agar lebih aktif mendampingi anak sejak usia dini hingga remaja. Program ini juga menyasar remaja laki-laki sebagai calon ayah agar memiliki pemahaman mengenai tanggung jawab pengasuhan dan pentingnya keterlibatan dalam kehidupan keluarga.
Salah satu bentuk implementasinya adalah Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS). Kedua kegiatan tersebut mendorong ayah terlibat langsung dalam perjalanan pendidikan anak.
Melalui GEMAR, ayah berkesempatan mengetahui perkembangan belajar anak sekaligus berkomunikasi dengan pihak sekolah. Sementara itu, melalui GAMAS, ayah dapat memberikan dukungan emosional dan menunjukkan perhatian terhadap pengalaman pendidikan anak sejak hari pertama masuk sekolah.
Elma menilai keterlibatan ayah dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak, mendengarkan cerita mereka, mendampingi proses belajar, dan memberikan perhatian terhadap persoalan yang dihadapi.
Ia menegaskan bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kerja sama antara ayah dan ibu. Melalui keterlibatan yang konsisten, keluarga diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Dengan penguatan program GATI, BKKBN Jawa Barat berharap semakin banyak ayah yang menyadari pentingnya kehadiran mereka dalam kehidupan anak. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya generasi yang mandiri, percaya diri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan masa depan.


