
MANGGARAI TIMUR, NTT – Tim PetuAlang Rescue bersama relawan dan sejumlah lembaga mitra terus melakukan aksi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selama pelaksanaan misi kemanusiaan sejak 20 Agustus hingga 12 September 2026, PetuAlang Rescue tidak hanya menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan dasar, tetapi juga melakukan assessment terhadap kondisi masyarakat dan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana.
Salah satu perhatian utama tim adalah keberlangsungan pendidikan anak-anak penyintas. Dari hasil assessment di sejumlah wilayah, kebutuhan terhadap ruang belajar sementara menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian agar anak-anak tetap dapat mengikuti kegiatan pendidikan meskipun kondisi sekolah belum sepenuhnya dapat digunakan.
Atas kondisi tersebut, PetuAlang Rescue mendorong konsep “Sekolah Darurat dari Tenda”, yaitu ruang belajar sementara yang dirancang untuk memberikan tempat belajar yang lebih aman dan layak bagi anak-anak terdampak bencana.
Konsep sekolah darurat tersebut menggunakan tenda sebagai ruang belajar sementara dengan ukuran sekitar 6 x 4 meter dan kapasitas sekitar 20–25 anak. Ruangan dirancang dilengkapi area guru dan papan tulis, rak buku, meja dan kursi belajar, area membaca, perlengkapan belajar, penerangan, serta fasilitas pendukung lainnya.
Selain sebagai tempat belajar, konsep tersebut juga diarahkan menjadi ruang yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak selama masa pemulihan pascabencana.

“Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Ketika ruang belajar mereka terdampak bencana, maka kita perlu menghadirkan kembali ruang belajar tersebut dalam bentuk yang memungkinkan dan sesuai dengan kondisi di lapangan.”
Kolaborasi Lintas Lembaga
Pelaksanaan misi kemanusiaan PetuAlang Rescue dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga, organisasi, komunitas, pemerintah, serta para donatur.
Dalam program dukungan pendidikan dan pengembangan konsep sekolah darurat, materi yang dibawa oleh tim juga menunjukkan kolaborasi PetuAlang, HIC, dan Mentari Ilmu Charity dalam menghadirkan ruang belajar sementara bagi anak-anak terdampak gempa NTT.
Sementara dalam keseluruhan operasi kemanusiaan di lapangan, PetuAlang Rescue berkoordinasi dan berkolaborasi dengan berbagai unsur dan mitra, di antaranya BNPB, TNI, HIC, Gemawana Indonesia, Pemerintah Desa Gunung Putri, Destana Gunung Putri, TP-PKK Desa Gunung Putri, Sebar Nabung, Dunia Sosialku, Sinergi Kebaikan Bersama, Yayasan Jembatan Amal, SAIK, Pendaki Jonggol, MAPALA IBTA, JALUR, POSILET, GP Rafting, dan ASP.
Kolaborasi tersebut mencakup pengiriman bantuan, distribusi logistik, dukungan operasional lapangan, pelayanan masyarakat, hingga assessment kebutuhan masyarakat dan fasilitas pendidikan.
Air Bersih hingga Dukungan Psikososial
Selain bidang pendidikan, PetuAlang Rescue juga memberikan perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat penyintas.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pemasangan mesin penjernih air di empat titik lokasi tenda penyintas. Mesin tersebut merupakan donasi dari Jemaah HIC yang disalurkan melalui PetuAlang untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Tim juga melaksanakan pendampingan psikososial, pembagian obat-obatan, bantuan logistik untuk dapur umum mandiri yang dikelola warga, serta penyediaan hidangan Jumat Berkah bagi masyarakat terdampak.
Kegiatan pelayanan dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Lambaleda, Kecamatan Reok, Kecamatan Sambi Rampas di Kabupaten Manggarai Timur, serta sejumlah lokasi di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.
Untuk sektor pendidikan, assessment dilakukan di beberapa lokasi, termasuk SDI Mbay, wilayah Kolikapa, serta sejumlah titik lainnya yang membutuhkan perhatian terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Kebutuhan Pascabencana Masih Berlanjut
Hasil pemantauan tim menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih tinggal di tenda-tenda darurat, sementara sebagian lainnya mengungsi ke rumah keluarga atau kerabat di wilayah yang dianggap lebih aman.
Sejumlah kebutuhan masih menjadi perhatian, antara lain sembako, air bersih, terpal, sarana MCK, pendampingan psikososial, serta fasilitas pendidikan sementara.
Khusus untuk anak-anak, keberadaan sekolah darurat dinilai menjadi bagian penting dalam masa pemulihan karena pendidikan tetap perlu berjalan di tengah situasi pascabencana.
Membangun Kembali Ruang Belajar Anak
Melalui konsep sekolah darurat, PetuAlang Rescue dan mitra berupaya menghadirkan ruang belajar yang dapat digunakan sementara sampai kondisi sekolah permanen kembali memungkinkan untuk digunakan.
Konsep tersebut mengusung semangat:
“Kita hadirkan kembali ruang belajar, kita jaga masa depan mereka.”
Bagi PetuAlang Rescue, penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan tempat tinggal sementara, tetapi juga memastikan anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar, bermain, dan memperoleh dukungan selama proses pemulihan.
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan lapangan, Tim PetuAlang Rescue yang terdiri dari Giox Raya selaku Founder PetuAlang, Rizky, Asep, Pipit, Ranu Sugianto/Capunk, Yasin ASP, dan Ibra ASP, mempersiapkan perjalanan kembali menuju Pulau Jawa melalui rute Manggarai – Labuan Bajo – Sumbawa – Lombok – Bali – Jawa Timur – Jawa Tengah – Jawa Barat.
Misi tersebut menjadi bagian dari upaya relawan dan para mitra untuk terus mendampingi masyarakat NTT dalam melewati masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.
Kolaborasi kemanusiaan diharapkan dapat terus berlanjut, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan memastikan anak-anak terdampak tetap mendapatkan hak mereka atas pendidikan.



Petualang mantap braaakkkkk