MUKOMUKO — Mengamalkan Pancasila tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Menjaga toleransi, membantu tetangga, mengikuti musyawarah desa, menolak hoaks hingga bergotong royong membersihkan lingkungan merupakan tindakan sederhana yang dinilai memiliki dampak besar dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang berlangsung di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, Sabtu, 12 September 2026.
Pensiunan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mukomuko, Drs. H. Ruslan, M.Pd., mengatakan Pancasila memiliki lima fungsi penting dalam kehidupan bangsa.
Selain sebagai pemersatu, Pancasila menjadi pedoman hidup, jiwa bangsa, sumber hukum, serta cita-cita dan tujuan nasional.
Menurut Ruslan, nilai tersebut harus diterapkan mulai dari lingkungan terkecil.
Pada sila pertama, masyarakat dapat menunjukkan toleransi dengan menghormati pelaksanaan ibadah umat agama lain. Pada sila kedua, nilai kemanusiaan dapat diwujudkan melalui empati dan sikap tolong-menolong.
Sila ketiga dapat diterapkan dengan menjaga persatuan dan menolak informasi yang berpotensi memecah belah. Sila keempat diwujudkan melalui musyawarah, sedangkan sila kelima tercermin dalam sikap adil dan gotong royong.
Ruslan mencontohkan sejumlah aksi sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. Mulai dari membantu warga kurang mampu, donor darah, menjaga kebersihan lingkungan, aktif dalam musyawarah hingga membangun komunikasi warga yang bebas dari hoaks.
“Perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” menjadi inti pesan yang disampaikan dalam pemaparannya.
Anggota DPR RI Komisi XIII, Hj. Eko Kurnia Ningsih, juga mengajak masyarakat menjadikan desa sebagai ruang utama untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila.
Menurut Eko, desa yang maju tidak hanya ditandai pembangunan fisik, tetapi juga kehidupan masyarakat yang rukun dan saling peduli.
Ia mengajak masyarakat menjaga kerukunan antarumat beragama, menghormati sesama, memperkuat gotong royong, mengedepankan musyawarah dan memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan seluruh masyarakat.
Perhatian terhadap warga kurang mampu, lanjut dia, juga merupakan bagian dari pengamalan sila kelima. Program pendidikan, kesehatan, ekonomi dan perlindungan lingkungan perlu didukung bersama demi terciptanya kesejahteraan yang merata.
Sementara itu, Galuh Ibrahim, S.E., M.M., mengingatkan bahwa pembentukan karakter Pancasila harus dimulai dari keluarga.
Menurut Galuh, rumah menjadi tempat pertama anak dan anggota keluarga belajar tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan.
Nilai-nilai tersebut kemudian harus dibawa dalam kehidupan sosial, termasuk ketika masyarakat berinteraksi melalui media digital.
Galuh mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap hoaks, kebencian, polarisasi dan tindakan yang didorong emosi. Ia mengajak peserta mempertimbangkan dampak sebelum membagikan informasi di media sosial.
Menurutnya, media sosial dapat menjadi perekat persatuan apabila digunakan untuk berbagi informasi yang bermanfaat, menghormati perbedaan dan menjaga persaudaraan.
Rangkaian pemaparan tersebut kemudian bermuara pada satu pesan yang sama: Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan.
Para narasumber mengajak peserta membangun kebiasaan sederhana di rumah, lingkungan masyarakat, tempat kerja maupun ruang digital.
Dari tindakan-tindakan kecil tersebut diharapkan tumbuh karakter masyarakat yang toleran, peduli, gotong royong, demokratis dan adil.
Semangat tersebut menjadi fondasi untuk mewujudkan desa yang rukun, maju dan sejahtera sekaligus memperkuat perjalanan Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.


