Digindonews.com, JAKARTA — Akademisi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Yanto, Ph.D, menilai integrasi antara pemenuhan gizi dan pendidikan merupakan investasi strategis dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut disampaikannya dalam webinar bertajuk “Sekolah sebagai Benteng Pertahanan SDM: Mengintegrasikan Gizi dan Pendidikan untuk Kedaulatan Bangsa” yang digelar secara daring, Kamis (23/7/2026).
Menurut Yanto, pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi maupun teknologi, tetapi juga kualitas manusia yang dimiliki.
Karena itu, sekolah harus diposisikan sebagai pusat pembentukan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu menghadapi berbagai tantangan global.
Ia menjelaskan bahwa gizi yang baik berperan penting dalam mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, peningkatan daya tahan tubuh, serta kemampuan belajar anak.
Sementara itu, pendidikan membentuk karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta tanggung jawab sosial.
“Keberhasilan pembangunan SDM tidak dapat hanya mengandalkan pendidikan tanpa memperhatikan kondisi gizi peserta didik,” ujarnya.
Yanto juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi bonus demografi yang harus dimanfaatkan secara optimal.
Namun, peluang tersebut dapat berubah menjadi tantangan apabila persoalan stunting, obesitas pada anak, serta kesenjangan kualitas pendidikan tidak segera diatasi.
Selain itu, ia menyoroti masih adanya ketimpangan fasilitas pendidikan, distribusi guru, dan akses teknologi di berbagai daerah yang memerlukan perhatian serius pemerintah.
Menurutnya, sekolah menjadi lokasi paling efektif untuk mengintegrasikan pendidikan, edukasi kesehatan, pembentukan karakter, serta intervensi gizi secara berkelanjutan.
Ia menambahkan keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari keluarga, guru, masyarakat, tenaga kesehatan, dunia usaha, hingga pemerintah.
Yanto juga mengutip berbagai praktik baik dari Jepang, Taiwan, Amerika Serikat, India, Kenya, dan Tiongkok yang berhasil mengintegrasikan program makan di sekolah dengan pendidikan karakter dan pembiasaan hidup sehat.
Menurutnya, pengalaman berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa program makan di sekolah tidak hanya meningkatkan status gizi, tetapi juga membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan budaya hidup sehat peserta didik.
Di akhir pemaparannya, Yanto mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi agar investasi pada gizi dan pendidikan mampu melahirkan generasi Indonesia yang sehat, produktif, berkarakter, dan berdaya saing global.***


