Post Views: 277
Digindonews.com, Jakarta – Transformasi digital dinilai menjadi faktor kunci dalam mendorong percepatan swasembada air di Indonesia. Hal ini disampaikan dalam webinar nasional bertema “Swasembada Air sebagai Pilar Ketahanan Nasional dan Pembangunan Berkelanjutan” yang digelar pada Kamis (2/4).
Dalam diskusi tersebut, para narasumber menekankan bahwa pengelolaan air modern tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan teknologi digital. Penggunaan sensor air, sistem irigasi pintar, hingga pemantauan berbasis data dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan akurasi distribusi air, khususnya di sektor pertanian.
Namun, di balik peluang besar tersebut, terdapat tantangan serius berupa kesenjangan akses digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Banyak daerah lumbung pangan yang masih menghadapi keterbatasan jaringan internet, sehingga adopsi teknologi belum berjalan optimal.
Selain itu, isu keamanan siber juga menjadi perhatian penting. Seiring meningkatnya penggunaan sistem digital dalam pengelolaan sumber daya air, risiko serangan siber terhadap infrastruktur vital turut meningkat. Oleh karena itu, penguatan literasi digital dan keamanan sistem menjadi kebutuhan mendesak.
Data menunjukkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai USD 130 miliar pada 2025. Potensi ini dinilai harus dimanfaatkan untuk mendukung sektor strategis, termasuk pengelolaan air dan pertanian berbasis teknologi.
Para narasumber menegaskan bahwa digitalisasi tidak boleh bersifat eksklusif. Pemerataan akses teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara luas, termasuk oleh petani dan masyarakat di daerah.
Dengan integrasi antara teknologi dan kebijakan yang tepat, digitalisasi diyakini mampu menjadi akselerator utama dalam mewujudkan swasembada air yang berkelanjutan.***


