DigIndonews.comDigIndonews.com
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Reading: Akademisi Tekankan Kolaborasi Keluarga, Pemerintah, dan Dunia Usaha untuk Percepatan Penurunan Stunting
Share
Font ResizerAa
DigIndonews.comDigIndonews.com
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Search
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Khazanah
  • Opini
  • Ekonomi
  • Opini
  • Uncategorized
  • Redaksi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
© Sayangi.com 2022 | All Rights Reserved
DigIndonews.com > Nasional > Akademisi Tekankan Kolaborasi Keluarga, Pemerintah, dan Dunia Usaha untuk Percepatan Penurunan Stunting
Nasional

Akademisi Tekankan Kolaborasi Keluarga, Pemerintah, dan Dunia Usaha untuk Percepatan Penurunan Stunting

Redaksi Published Desember 12, 2025
Share
SHARE

Digindonews.com, Jakarta — 12 Desember 2025. Wakil Dekan Fakultas Teknik Unika Atmajaya, Didi, S.E., Ak., M.Ak., CA., menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan multidimensional yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui intervensi kesehatan. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Ngobrol Bareng Legislator bertema Pencegahan Stunting, Jumat (12/12).

Mengutip UNICEF, Didi menjelaskan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi yang kurang dalam 1.000 hari pertama kehidupan. “Ini bukan soal keturunan pendek. Ini soal perkembangan otak dan masa depan produktivitas anak,” tegasnya. WHO bahkan mengategorikan stunting sebagai kondisi medis dengan risiko jangka panjang terhadap pendidikan dan pendapatan.

Menurut Didi, stunting di Indonesia berkaitan erat dengan kemiskinan, sanitasi, pendidikan gizi, dan ketimpangan akses layanan kesehatan. Banyak ibu hamil kekurangan gizi, jarang memeriksakan kehamilan, atau mengalami anemia. Setelah anak lahir, tantangan lain muncul: ASI eksklusif tidak diberikan, MPASI tidak bergizi, imunisasi tidak lengkap, serta lingkungan yang tidak higienis.

Baca Juga  Anggota Komisi 1 DPR RI Tofan Maulana Sebut Peran Penting Anak Muda dalam Menjaga Pemilu Damai

“Ini efek domino. Kalau sanitasi buruk, anak sering diare. Kalau sering diare, gizi tidak terserap. Kalau gizi tidak terserap, anak berisiko stunting,” jelasnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa stunting dapat dicegah melalui kolaborasi semua pihak. Menurutnya, keluarga adalah aktor pertama yang harus diperkuat melalui edukasi gizi, pemeriksaan rutin, dan pengelolaan lingkungan sehat. Pemerintah telah menjalankan berbagai program, termasuk penguatan posyandu, regulasi layanan ibu-anak, dan kampanye publik gizi seimbang, namun tantangan pemerataan edukasi masih mengemuka di daerah-daerah terpencil.

Dunia usaha, kata Didi, memiliki peran strategis melalui program CSR, seperti penyediaan makanan bergizi, fasilitas air bersih, hingga dukungan bagi kesejahteraan keluarga karyawan. Selain itu, sekolah perlu memastikan keberadaan kantin sehat, edukasi gizi, serta pemantauan kesehatan secara berkala agar pola hidup sehat terbentuk sejak dini.

Baca Juga  Wamenkumham: Surat PBB Terkait KUHP Sangat Terlambat

Didi juga menyoroti pentingnya literasi digital untuk menangkal hoaks seputar gizi dan kesehatan anak yang kerap beredar di media sosial. “Keluarga harus memeriksa sumber informasi dari lembaga resmi, bukan dari konten kreator tanpa kompetensi,” tegasnya.

Ia menilai program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat semakin memperkuat pencegahan stunting jika berjalan tepat sasaran dan didukung masyarakat. Namun ia mengingatkan bahwa upaya ini harus dibarengi kebiasaan hidup sehat dan informasi gizi yang benar di tingkat keluarga.

“Pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang. Kita tidak bisa bicara Indonesia Emas 2045 jika masalah ini tidak diselesaikan sekarang,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk berkontribusi mulai dari hal kecil. “Bahkan membagikan informasi yang benar di WhatsApp keluarga saja sudah termasuk kontribusi. Yang penting konsisten,” selorohnya.***

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Surabaya, Malang, dan Yogyakarta Jadi Kota Favorit Pelanggan di Masa Nataru, Penjualan Tiket Terus Meningkat
Next Article BRI Jatinegara Meriahkan My Melody and Kuromi Bestie Run 2025
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Daerah1,064
    • Agam14
    • Bukit Tinggi14
    • Limapuluh Kota423
    • Padang34
    • Payakumbuh147
    • Solok73
  • Ekonomi1,447
  • Headline408
  • Internasional82
  • Khazanah218
  • Lifestyle112
  • Nasional961
  • Olahraga79
  • Opini180
  • Pariwara Lipsus31
  • Politik261
  • Uncategorized283
  • Video15

Berita Lainnya

Empat Dokter Internship Gugur, LKMI Desak Negara Evaluasi Total Sistem PIDI
Wali Kota Zulmaeta Lakukan Pemeriksaan Kendaraan Dinas
Grand Opening Mitra10 Imam Bonjol Bali, Lengkapi Kebutuhan Rumah dengan Promo Menarik
KAI Daop 1 Jakarta Tambah Sembilan Perjalanan Kereta Api Jarak Jauh

Berita Terkait

Nasional

Dorong Generasi Muda Melek Digital, DPR Tekankan Pentingnya Literasi dan Karakter Sejak Dini

Mei 11, 2026
Nasional

PLN Perkuat Tata Kelola dan Mitigasi Risiko Pidana Korporasi Lewat Workshop KUHP-KUHAP Baru

Mei 8, 2026
Nasional

Strategi Arahkan Anak Melek Digital Jadi Fokus Bersama, Bukan Sekadar Akses Teknologi

April 28, 2026
Nasional

MBG Jadi Fondasi Strategis Bangun Generasi Unggul Indonesia

April 28, 2026
Show More
DigIndonews.comDigIndonews.com
Follow US
© DigIndonews.com 2024 | All Rights Reserved
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
Sign in to your account

Lost your password?