Digindonews.com — Program Makan Bergizi Gratis kembali menjadi sorotan dalam Forum Diskusi Publik bertema “Program Makan Bergizi Gratis: Investasi Negara untuk Generasi Emas 2045” yang digelar pada Selasa, 10 November 2025. Sejumlah tokoh hadir untuk memberikan pandangan, termasuk Anggota Komisi I DPR RI Sabam Rajagukguk dan Rektor Universitas Sains Indonesia (USI), Dr. Ir. Endah Murtiana Sari.
Sabam Rajagukguk menegaskan bahwa program makan bergizi bukan sekadar intervensi jangka pendek, melainkan investasi fundamental negara untuk menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Ia menyampaikan bahwa Indonesia tengah berada dalam momentum bonus demografi yang hanya datang sekali dalam satu peradaban.
“Jika anak-anak hari ini tumbuh dalam kondisi kurang gizi atau defisit kognitif, kita akan kehilangan peluang emas itu,” ujarnya. Ia menyoroti masih tingginya angka stunting dan masalah gizi lainnya yang mengancam produktivitas jangka panjang. Menurutnya, kehilangan potensi pendapatan 10–15 persen akibat kekurangan gizi merupakan kerugian besar yang jauh melampaui biaya program.
Sabam juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengadaan, distribusi, dan pengawasan program. Semua laporan anggaran dan kualitas makanan harus dapat diakses publik untuk menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat. Ia menambahkan bahwa keberagaman geografis Indonesia membuat desain dan implementasi program perlu disesuaikan dengan kondisi lokal, sehingga kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat menjadi sangat penting.
Sementara itu, Rektor USI, Endah Murtiana Sari, memandang program ini sebagai langkah strategis dalam pembangunan kualitas manusia Indonesia. Menurutnya, kemampuan belajar sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik siswa. “Anak yang datang ke sekolah tanpa asupan yang cukup cenderung sulit berkonsentrasi. Program ini adalah intervensi sederhana namun berdampak besar,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa transparansi tata kelola merupakan fondasi kesuksesan program. Perguruan tinggi, menurutnya, dapat berperan aktif melalui riset, inovasi menu lokal bergizi, hingga teknologi monitoring untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan. Endah juga menyebut bahwa keterlibatan petani lokal dan UMKM memberi manfaat ekonomi signifikan bagi daerah.
Di samping berbagai peluang, keduanya mengakui adanya tantangan seperti logistik wilayah terpencil, fasilitas sekolah yang terbatas, hingga kebutuhan adaptasi menu berdasarkan produk lokal. Namun, dengan kolaborasi lintas sektor, program ini diyakini dapat menjadi salah satu kebijakan paling berpengaruh dalam sejarah pembangunan SDM Indonesia.***


