KARAWANG — Peran remaja dan keluarga menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mencegah stunting. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si, mengingatkan pentingnya memperkuat pembinaan remaja sejak dini melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Hal itu disampaikan Dadi dalam Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Kabupaten Karawang, Sabtu (19/9/2026).
Dadi mengatakan, BKKBN telah menyediakan berbagai wadah pembelajaran bagi remaja, antara lain melalui posyandu remaja serta kegiatan edukatif di sekolah dan komunitas. Namun, pemanfaatan fasilitas tersebut masih perlu ditingkatkan.
Ia menyebut data BKKBN 2023 menunjukkan sekitar 48 persen remaja aktif mengikuti kegiatan posyandu remaja secara rutin.
Menurut Dadi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan fasilitas belum otomatis diikuti dengan tingginya partisipasi masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan, pengasuhan, dan kehidupan berkeluarga perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Remaja bukan hanya penerima pengasuhan, tetapi juga calon pengasuh di masa depan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti komunikasi antara orang tua dan anak, khususnya mengenai kesehatan reproduksi dan gizi. Menurut dia, komunikasi antargenerasi masih perlu diperkuat agar anak memiliki ruang yang aman untuk memperoleh informasi yang tepat.
Dadi menilai pola pengasuhan juga perlu menyesuaikan dengan kebutuhan anak pada setiap tahap perkembangan. Disiplin, menurutnya, tetap penting, tetapi perlu disertai komunikasi, pendampingan, dan pemahaman terhadap kebutuhan anak.
Selain faktor keluarga, kondisi lingkungan turut memengaruhi kesehatan anak. Lingkungan rumah dan permukiman yang tidak bersih, seperti adanya genangan air, sampah menumpuk, serta buruknya sanitasi, dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Karena itu, ia mendorong masyarakat kembali memperkuat budaya gotong royong di tingkat RT dan RW.
Menurut Dadi, kegiatan membersihkan lingkungan bersama bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga bagian dari upaya preventif untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak.
“Semangat kebersamaan itu justru menjadi benteng utama untuk mencegah masalah kesehatan seperti stunting dan kecacingan,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Rezky Murwanto, MPH, menekankan pentingnya membangun keluarga tangguh melalui program Genting. Keluarga tangguh tidak hanya diukur dari kemampuannya menghadapi persoalan ekonomi dan sosial, tetapi juga dari kemampuan menyiapkan generasi berikutnya agar memiliki arah hidup yang produktif.
Sementara itu, Obon Tabroni menegaskan bahwa persoalan kualitas manusia membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, keluarga, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan keluarga tidak hanya diarahkan pada pengendalian kependudukan, tetapi juga pada pembentukan keluarga sehat, tangguh, dan mampu mendukung tumbuh kembang generasi berikutnya.


