DigIndonews.com, Jakarta – Dr.Verdy Firmantoro,S.I.Kom., M.I.Kom.(Dosen Komunikasi Politik FISIP UHAMKA) hadir pada webinar series kali ini sebagai narasumber menyatakan “Pengaruh internet pada remaja yaitu berpotensi rentan terpengaruh dari segala konten yang terakses di internet, mempengaruhi pola pikir pola sikap dan pembentukan nilai-nilai atau karakter pada remaja, dan 80% responden yang disurvei terdapat kesenjangan digital yang kuat antara mereka yang tinggal di wilayah perkotaan dengan mereka yang tinggal di daerah pedesaan.
Dampak negatif radikalisme pada remaja di ruang digital yaitu penyebaran paham ekstrem kekerasan dan intoleran, polarisasi sosial dan konflik antar kelompok ataupun golongan, penyalahgunaan teknologi untuk serangan hacking pencurian data pribadi maupun penyebaran malware, dan ancaman keamanan atau stabilitas nasional.
Upaya mengatasi radikalisme online
1. Pemerintahan yaitu kebijakan dan regulasi terkait penanganan radikalisme di ruang digital
2. Dunia pendidikan dan masyarakat yaitu pengajaran pemahaman yang kritis tentang content online dan membangun kesadaran masyarakat terhadap bahaya radikalisme
3. Individu yaitu mengenali dan melaporkan konten radikal kepada pihak yang berwenang dan mempromosikan narasi positif yang mendorong kerukunan dan toleransi
4. Keluarga yaitu keluarga mempunyai peranan dalam mengawasi akses remaja terhadap konten online yang merusak moral termasuk membangun komunikasi secara terbuka
5. Organisasi yaitu perkembangan diri remaja untuk berpartisipasi aktif dalam organisasi sosial untuk mencegah terpengaruh pada praktik radikalisme
Farah Anggota DPR RI yang hadir pada webinar series kali ini menyatakan ketika kita berbicara tentang internet, internet ini memiliki dampak negatif maupun positifnya, terhadap dampak yang positif kita tentu sangat mendukung dan bersyukur karena dapat membantu upaya peningkatan kualitas anak muda kedepannya.
Namun untuk mencegah minimalisir dampak negatif salah satunya adalah potensi keterpaparan anak muda terhadap paham-paham intertoleransi,radikal dan lain sebagainya.
Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh untuk mencegah atau meminimalisir potensi keterpaparan anak muda terhadap radikalisme melalui BNPT(Badan Penanggulangan Terorisme) telah berulang kali menyampaikan mengajak kepada guru agama, ustadzdan kyai untuk mengajarkan pentingnya perilaku toleransi anti radikalisme dan anti terorisme kepada generasi muda.
Pembelajaran tersebut dinilai sangat penting karena melihat trend kenaikan keterlibatan milenial dalam jumlah terorisme di Indonesia cukup signifikan meningkatnya, dalam hal ini lembaga pendidikan menjadi salah satu lokus yang dapat dijadikan arah keterperpaduan tersebut.